RADAR PALU - Perusahaan teknologi raksasa Meta mulai merombak struktur kerja internal secara agresif di tengah perlombaan kecerdasan buatan global. Lebih dari 7.000 karyawan diwajibkan pindah ke divisi pengembangan AI dan infrastruktur komputasi awan. Kebijakan itu memicu kegelisahan di internal perusahaan.
Restrukturisasi ini menjadi bagian dari langkah agresif Meta mempercepat pengembangan teknologi AI generatif. Persaingan dengan OpenAI, Google, dan Anthropic kian ketat. Sebagian karyawan disebut akan ditempatkan pada tim pengembang cloud AI, sementara kelompok lain diarahkan ke proyek agen AI internal bernama sandi “Hatch”.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (20/5/2026), Wakil Presiden Production Engineering Meta, Peter Hoose, menyampaikan memo internal tentang perubahan fundamental perusahaan.
“Pekerjaan, infrastruktur, dan produk kami pada dasarnya sedang berubah akibat percepatan AI yang terus berlangsung. Kecepatan pembangunan yang kami lakukan belum pernah terjadi sebelumnya, dan inilah jenis tantangan yang mendefinisikan kemampuan terbaik kami,” ujar Hoose.
Namun, kebijakan itu mengingatkan karyawan pada pengalaman sebelumnya. Meta telah memindahkan sedikitnya 1.000 insinyur ke tim pelabelan data bernama Applied AI (AAI). Awalnya perusahaan menawarkan skema sukarela, tetapi kemudian menyampaikan bahwa “perpindahan ini bukan pilihan.”
Seorang pegawai Meta mempertanyakan model perekrutan paksa tersebut. Dalam komentar internal, ia menulis, “Apakah kata ‘dipilih’ berarti ini seperti perekrutan paksa gaya Applied AI dan bukan perpindahan sukarela?”
Baca Juga: Kejati Sulteng Peringati Harkitnas 2026, Tegaskan Semangat Persatuan dan Literasi Digital
Dampak pada Budaya Kerja dan Manajemen
Restrukturisasi ini menandai perubahan budaya kerja Meta yang sebelumnya dikenal fleksibel. Perusahaan yang dulu memberi kebebasan besar kepada karyawan dalam memilih proyek kerja kini menerapkan sistem lebih terpusat.
Meta juga mulai memangkas struktur manajemen tradisional. Sejumlah manajer kehilangan bawahan langsung dan dialihkan menjadi pekerja teknis. Mereka dituntut lebih banyak menghasilkan pekerjaan dibanding mengawasi tim. Tren serupa mulai terlihat di Silicon Valley seiring perusahaan teknologi mengadopsi AI untuk merampingkan organisasi.
Seorang insinyur Meta yang identitasnya dirahasiakan menyebut perubahan itu mencerminkan pola manajemen yang semakin otoriter.
“Struktur organisasi baru ini menunjukkan pergeseran strategi manajemen tingkat atas menuju mikro-otoritarianisme. Rasanya seperti perusahaan kini berkata: ‘Tidak, kami yang menentukan apa yang harus Anda lakukan, dan sistem komando adalah jalan ke depan’,” ujarnya kepada The Guardian.
Alat Pemantauan Karyawan Picu Penolakan
Ketegangan internal semakin meningkat setelah Meta meluncurkan alat pemantauan pekerja bernama Model Capability Initiative (MCI). Sistem tersebut merekam pergerakan mouse, penekanan tombol keyboard, aktivitas membuka laptop, hingga data salin-tempel karyawan. Data itu digunakan sebagai pelatihan model AI.
Baca Juga: Perempuan Jadi Pengguna Dominan Transaksi Digital, BI Perkuat Edukasi
Juru bicara Meta mengatakan teknologi itu diperlukan agar AI memahami cara manusia menggunakan komputer sehari-hari. “Model kami membutuhkan contoh nyata bagaimana manusia menggunakan komputer, seperti gerakan mouse, klik tombol, dan navigasi menu,” kata pihak Meta.
Kebijakan tersebut memicu penolakan internal. Lebih dari 500 karyawan Meta telah menandatangani petisi yang meminta perusahaan menghentikan pengumpulan data penggunaan komputer pekerja. Di Inggris, sebagian pekerja mulai mengorganisasi pembentukan serikat bersama United Tech and Allied Workers.
Investasi Raksasa di Tengah Persaingan AI
Pada Januari lalu, Mark Zuckerberg menyatakan Meta akan menggelontorkan investasi hingga 135 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.396 triliun dengan kurs Rp 17.750 per dolar AS). Dana itu untuk infrastruktur AI dan pengembangan “superintelligence” personal.
Persaingan kecerdasan buatan kini bergeser. Pertarungan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga perebutan talenta, arah kerja, dan kendali industri digital dunia. Langkah agresif Meta menunjukkan bahwa perlombaan AI telah memasuki babak baru yang menyentuh langsung dinamika internal perusahaan teknologi terbesar sekalipun.***
Editor : Muhammad Awaludin