RADAR PALU – Hassanal Bolkiah kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah diketahui menerbangkan sendiri pesawat pribadinya jenis Boeing 747 saat menghadiri KTT ASEAN ke-48 di Cebu.
Kehadiran Sultan Brunei dalam forum bergengsi Asia Tenggara tersebut menarik perhatian publik dan media internasional. Bukan hanya karena statusnya sebagai salah satu pemimpin monarki terkaya di dunia, tetapi juga karena kemampuannya mengendalikan langsung pesawat berbadan lebar untuk perjalanan resmi kenegaraan.
Informasi mengenai Hassanal Bolkiah yang menerbangkan sendiri Boeing 747 ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah dokumentasi dan laporan kegiatan KTT ASEAN 2026 beredar luas.
Baca Juga: PDRB Sulawesi Tengah Tumbuh 8,32 Persen pada Triwulan I-2026, Industri Pengolahan Melonjak
Kemampuan Sultan Brunei mengoperasikan pesawat bukan hal baru. Hassanal Bolkiah diketahui telah lama memiliki lisensi pilot dan aktif menerbangkan berbagai jenis pesawat pribadi miliknya.
Ia bahkan disebut sebagai salah satu dari sedikit kepala negara di dunia yang mampu mengendalikan pesawat komersial berbadan besar secara langsung.
Aksi tersebut kembali memperlihatkan sisi unik kepemimpinan Sultan Brunei Darussalam. Di tengah kesibukan diplomasi internasional dan urusan pemerintahan, Hassanal Bolkiah tetap menunjukkan kemampuan teknis di bidang penerbangan yang jarang dimiliki pemimpin negara lain.
Baca Juga: Kemenkum Sulteng Matangkan Program MendaKI Bersama Wakil Gubernur
Momen itu juga menjadi perhatian peserta dan delegasi negara ASEAN lainnya dalam pelaksanaan KTT ASEAN ke-48 di Filipina.
Forum ASEAN tahun ini membahas berbagai isu strategis kawasan, mulai dari penguatan ekonomi regional, keamanan Asia Tenggara, hingga kerja sama digital dan stabilitas geopolitik kawasan Indo-Pasifik.
Sementara itu, unggahan mengenai Sultan Brunei yang menerbangkan sendiri Boeing 747 terus viral dan menuai beragam komentar kagum dari warganet.
Banyak yang menilai kemampuan tersebut mencerminkan disiplin, kecerdasan teknis, sekaligus karakter kepemimpinan yang berbeda dari kebanyakan kepala negara dunia.***
Editor : Muhammad Awaludin