RADAR PALU - Komunikasi militer antara Israel dan Amerika Serikat dilaporkan semakin intens di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, disebut aktif berkoordinasi dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, terkait kemungkinan langkah militer lanjutan.
Laporan media Israel, Channel 12, pada Sabtu (2/5) menyebutkan bahwa sejumlah infrastruktur strategis Iran berpotensi menjadi sasaran apabila eskalasi konflik benar-benar terjadi.
Baca Juga: Saat Harga Pangan Menekan, Polres Parimo Turun Tangan Bantu Warga
Target yang dipertimbangkan mencakup jaringan energi, jalan raya utama, hingga fasilitas industri vital.
Di saat yang sama, militer Israel meningkatkan kesiapan pertahanan dan memperketat kewaspadaan guna mengantisipasi kemungkinan babak konflik berikutnya. Situasi ini menunjukkan bahwa opsi militer masih menjadi salah satu skenario yang terus dipertimbangkan.
Dari pihak Amerika Serikat, muncul indikasi bahwa Washington tengah mengkaji opsi serangan terbatas terhadap Iran. Langkah tersebut disebut-sebut bertujuan untuk menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan terkait program nuklirnya, meski hingga kini belum ada keputusan final mengenai waktu maupun bentuk operasi.
Baca Juga: Guru Besar Untad: Program Makan Bergizi Gratis Satukan Siswa Kaya dan Miskin
Koordinasi antara kedua negara juga mencakup pemantauan terhadap upaya Iran dalam memulihkan fasilitas-fasilitas pentingnya pascaserangan sebelumnya.
Jika serangan kembali terjadi, sasaran diperkirakan akan meliputi instalasi energi, pabrik baja, serta cadangan minyak dan gas.
Ketegangan ini tidak lepas dari rangkaian peristiwa sebelumnya. Pada 28 Februari, AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menargetkan sekutu AS di kawasan Teluk serta memicu penutupan Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi dunia.
Baca Juga: Astra Agro Lestari Perkuat Produktivitas Sawit, Jawab Tantangan Defisit Minyak Nabati Dunia
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan pada 8 April lewat mediasi Pakistan. Pembicaraan lanjutan di Islamabad pada 11–12 April berlangsung, namun belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa menetapkan tenggat waktu baru, sebagaimana diharapkan oleh pihak mediator. (*)
Editor : Agung Sumandjaya