RADAR PALU– Harapan baru muncul di tengah konflik yang memanas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dijadwalkan bertolak ke Islamabad, Jumat (24/4), memicu spekulasi pembicaraan damai dengan Amerika Serikat akan kembali dibuka.
Kunjungan ini menarik perhatian karena Islamabad sebelumnya menjadi lokasi perundingan antara kedua negara. Meski belum ada konfirmasi resmi, sinyal diplomatik mulai terbaca.
Media pemerintah Iran menyebut perjalanan Araqchi juga mencakup Muscat dan Moskow. Namun, tidak ada pernyataan eksplisit terkait agenda negosiasi dengan Washington.
Baca Juga: Arbeloa Murka, Wasit Tak Beri Penalti dan Anggap Gol Betis Diawali dari Pelanggaran
Sumber pemerintah Pakistan menyebut, kunjungan tersebut berpotensi menjadi pintu masuk pembicaraan lanjutan. Apalagi, tim logistik dan keamanan Amerika Serikat dilaporkan sudah berada di lokasi.
“Semua masih spekulatif. Kami menunggu arahan langsung saat ia tiba,” ujar salah satu sumber.
Dari Washington, belum ada respons resmi. Namun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut Iran memiliki peluang untuk mencapai “kesepakatan yang baik”.
Baca Juga: Di UCL Tersingkir, Madrid Terancam Tanpa Gelar Lagi di La Liga
Sebelumnya, putaran negosiasi yang dijadwalkan pekan ini gagal terlaksana. Iran mengaku belum siap hadir, sementara delegasi AS tidak berangkat dari Washington.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan untuk memberi ruang diplomasi.
Situasi di kawasan tetap tegang. Iran masih menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal asing, sementara AS meningkatkan tekanan dengan blokade terhadap pelayaran Iran.
Data pelayaran menunjukkan penurunan drastis aktivitas di jalur vital tersebut. Hanya lima kapal yang melintas dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik.
Tekanan politik juga mulai dirasakan Washington. Harga energi tinggi dan inflasi meningkat menjadi faktor yang membayangi langkah Gedung Putih menjelang pemilu.
Langkah Iran ke Islamabad kini menjadi titik krusial. Apakah ini awal dari kompromi, atau sekadar manuver diplomasi, masih harus diuji dalam beberapa hari ke depan.***
Editor : Muhammad Awaludin