RADAR PALU - Video dramatis dari Iran mendadak viral dan bikin dunia tegang. Rekaman itu memperlihatkan detik-detik pasukan bersenjata menyita kapal di Selat Hormuz—jalur vital energi globa.
Televisi pemerintah Iran menayangkan video yang mereka klaim sebagai operasi Angkatan Laut Iran saat menyita kapal-kapal asing, Kamis (23/4/2026).
Rekaman itu langsung memicu kekhawatiran baru soal keamanan pelayaran internasional.
Baca Juga: Dean James Main 16 Menit, Go Ahead Eagles Ditahan AZ Tanpa Gol
Dalam video tersebut, terlihat jelas momen menegangkan. Sebuah perahu cepat mendekati kapal kontainer berukuran besar. Sejumlah pria bertopeng dan bersenjata lalu naik ke atas kapal tanpa banyak perlawanan.
Dua kapal yang disita disebut bernama MSC Francesca dan Epa Minondas. Otoritas Iran menuduh keduanya beroperasi tanpa izin serta merusak sistem navigasi di wilayah perairan tersebut.
Meski situasi terlihat mencekam, seluruh awak kapal dilaporkan dalam kondisi aman. Namun, ketegangan yang ditimbulkan jauh lebih besar dari sekadar insiden di laut.
Peristiwa ini terjadi sehari setelah Iran menembaki tiga kapal yang melintas di Selat Hormuz, Rabu (22/4/2026). Dari tiga kapal tersebut, dua akhirnya disita dan dibawa ke wilayah Iran oleh Garda Revolusi, pasukan paramiliter elite negara itu.
Baca Juga: Gol Menit 120 Tiago Tomas Bawa Stuttgart ke Final DFB Pokal, Tantang Bayern di Berlin
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Ini adalah “urat nadi” distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur sempit ini setiap hari. Sedikit gangguan saja bisa berdampak luas.
Insiden penyitaan kapal ini langsung menambah tekanan di kawasan yang memang sudah panas. Banyak pihak khawatir situasi bisa berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Di sisi lain, respons dari Amerika Serikat justru mengejutkan. Gedung Putih menyatakan bahwa tindakan Iran tersebut tidak melanggar ketentuan gencatan senjata yang berlaku.
Pernyataan ini memicu spekulasi. Apakah ini sinyal bahwa dunia sedang menahan diri? Atau justru tanda bahwa konflik di kawasan ini masuk fase baru yang lebih kompleks?***
Editor : Muhammad Awaludin