Mahasiswa UIN Datokarama Palu Diduga Dikeroyok di Kampus, Korban Tempuh Jalur Hukum

Wahono. • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:58 WIB
Ilustrasi pengeroyokan
Ilustrasi pengeroyokan

 

RADAR PALU – Seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Aswad Purwana, diduga menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan di Gedung SBSN lantai 2, Senin (5/10/2026) sekitar pukul 09.00 WITA. Akibat kejadian tersebut, Aswad mengalami luka robek di bagian pelipis dan nyeri pada punggung hingga harus mendapat penanganan medis darurat di UKS kampus.

Berdasarkan keterangan Aswad, peristiwa itu bermula saat dirinya bersama rekan-rekannya bersenda gurau di dalam kelas bersama dosen. Setelah perkuliahan, dua rekannya, Bambang dan Dhani, keluar kelas sambil merokok dan tertawa. Namun, sikap tersebut diduga memicu teguran dari sejumlah mahasiswa yang berada di lantai bawah.

“Awalnya kami cuma bercanda dengan dosen di kelas, terus kami ketawa-ketawa. Setelah itu, Bambang dan Dani keluar merokok sambil masih ketawa, tapi malah ditegur dan diteriaki sama anak-anak Mapala di bawah,” ujar Aswad.

Baca Juga: Orang Tua Korban Pengeroyokan Pertanyakan Penanganan Kasus

Situasi kemudian memanas ketika Aswad keluar kelas untuk mengambil binder. Ia mengaku mendapat bentakan, makian, hingga intimidasi verbal dari kelompok tersebut.

Menurut pengakuannya, seorang pria yang disebut bernama Muh Reski mendatanginya ke lantai atas, kemudian menarik kerah bajunya dan berusaha memukul. Aksi tersebut, kata Aswad, berlanjut setelah seorang lainnya bernama Akbil dan beberapa orang lain ikut terlibat.

“Habis itu, Muh Reski lari naik ke atas samperi saya. Dia langsung bentak, pegang kerah baju saya, dan coba memukul. Setelah itu, Akbil dan yang lainnya ikut menahan pergerakan saya. Sempat menghindar, tapi pukulan kedua itu masuk sampai bikin pelipis saya pecah,” ungkapnya.

Aswad menyebut pengeroyokan tersebut melibatkan lebih dari lima orang. Seorang mahasiswi yang berusaha melerai kejadian itu juga diduga terkena pukulan berulang kali dari arah belakang.

Baca Juga: Tiga Mahasiswa Teknik Untad Diduga Dikeroyok Senior, Bunda Wiwik Buka Suara

Dalam pemberitaan LPM Qalamun, insiden tersebut diduga dipicu kesalahpahaman antara Aswad dan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UIN Datokarama Palu. Ketua Umum Mapala, dalam pemberitaan tersebut, menyatakan pihaknya merasa tersinggung karena menganggap sistem pendidikan mereka ditertawakan.

“Wajar kami merasa tersinggung kalau sistem pendidikan kami ditertawakan, kami tidak sembarangan memukul orang dan tidak ingin mencari masalah dengan siapa pun,” demikian pernyataan Ketua Umum Mapala sebagaimana dikutip LPM Qalamun.

Aswad telah melaporkan dugaan pengeroyokan tersebut ke Polresta Palu pada 5 Oktober 2026 dengan nomor laporan LP/B/1189/X/2026/SPKT/POLRESTA PALU/POLDA SULAWESI TENGAH. Perkembangan penanganan perkara juga tercantum dalam SP2HP Nomor B/1524/X/2026/Satreskrim tertanggal 9 Oktober 2026.

Aswad menegaskan menolak penyelesaian secara kekeluargaan dan meminta proses hukum berjalan serta pihak kampus memberikan sanksi akademik secara adil.

“Dari saya sendiri selaku korban, saya sangat tidak terima dengan penyelesaian masalah ini lewat kekeluargaan. Apalagi saya dikeroyok oleh banyak orang dan mengalami luka di pelipis saya. Saya hanya ingin mencari keadilan bagi saya dan korban cewek yang ikut dipukul,” tegasnya.

Ia berharap masyarakat dan mahasiswa turut mengawal proses hukum agar kasus kekerasan serupa tidak kembali terjadi di lingkungan kampus.

Hingga berita ini diterbitkan, Kasat Reskrim Polresta Palu, AKP Ismail, belum memberikan keterangan resmi terkait laporan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai perkembangan penanganan kasus tersebut.

Editor : Wahono.
Pengeroyokan UKS Kampus UIN Datokarama Palu mahasiswa UIN