RADAR PALU – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Kantor Cabang Palu memperluas penetrasi pembiayaan ke sektor usaha produktif di Sulawesi Tengah. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama strategis dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah untuk memperkuat akses permodalan, layanan perbankan, dan pengembangan kapasitas pelaku usaha.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) oleh Ketua DPP APINDO Sulteng, Wijaya Chandra, bersama Branch Manager BTN Cabang Palu, Herry Gerald Talupun, di Kantor BTN Palu, Rabu (4/11/2026).
Kerja sama ini membuka peluang bagi anggota APINDO dan karyawan perusahaan yang tergabung di dalamnya untuk mengakses berbagai fasilitas perbankan. Mulai dari layanan payroll, tabungan, deposito, hingga pembiayaan usaha dan perumahan.
Baca Juga: Wijaya Chandra Pimpin APINDO Sulawesi Tengah Periode 2025–2030, Ini Daftar Lengkap Pengurusnya
Tidak hanya itu, BTN juga menyiapkan akses Kredit Modal Kerja (KMK), kredit investasi, serta Kredit Usaha Rakyat (KUR) sesuai persyaratan dan ketentuan perbankan.
Di sisi layanan digital, anggota APINDO dapat memanfaatkan Bale by BTN, BTN Cash Management System (CMS), mesin Electronic Data Capture (EDC), hingga Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk mendukung transaksi dan efisiensi operasional perusahaan.
Ketua APINDO Sulteng, Wijaya Chandra, mengatakan kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi mampu menghasilkan program konkret yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan usaha di daerah.
Baca Juga: Ekonomi Hijau Jadi Pilihan, APINDO Ingatkan Tambang Tak Bisa Selamanya Diandalkan
Menurutnya, Sulawesi Tengah memiliki banyak potensi ekonomi yang belum sepenuhnya berkembang karena keterbatasan akses modal, kapasitas produksi, serta kepastian pasar.
Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan komoditas pangan menjadi sejumlah bidang yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui dukungan pembiayaan perbankan.
Wijaya juga menyoroti potensi rumput laut dan sidat di Kabupaten Poso. Kedua komoditas tersebut dinilai memiliki prospek pasar yang menjanjikan apabila ditopang kesiapan produksi, kualitas pengelolaan, dan jaringan pemasaran.
Baca Juga: Ketua DPP APINDO Sulteng Soroti Tantangan Energi dan Hilirisasi Ekonomi
“Prinsip kami, tidak perlu terlalu banyak program jika pada akhirnya tidak berjalan. Lebih baik satu atau dua program, tetapi benar-benar fokus dan terealisasi. Kita harus mempertemukan potensi, investasi, dan pasar dengan tetap memperhitungkan risiko usaha,” kata Wijaya.
Sementara itu, Branch Manager BTN Cabang Palu, Herry Gerald Talupun, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari transformasi bisnis BTN melalui konsep beyond mortgage.
Konsep ini menandai perluasan peran BTN yang selama ini dikenal kuat dalam pembiayaan perumahan, agar semakin aktif mendukung kebutuhan finansial dunia usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca Juga: APINDO Minta RUU Ketenagakerjaan Tak Hambat Investasi dan Lapangan Kerja
“BTN ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa BTN bukan hanya bank yang berkecimpung di bidang KPR. Melalui konsep beyond mortgage, kami ingin hadir lebih luas dalam mendukung perekonomian masyarakat, termasuk dunia usaha dan para pengusaha yang berada di bawah naungan APINDO,” ujarnya.
Herry menjelaskan, skema pembiayaan akan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing usaha. Menurutnya, pembiayaan dengan plafon lebih kecil tetapi menjangkau lebih banyak pelaku usaha juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Selain pembiayaan, kerja sama tersebut turut menyasar peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program Pengusaha Mengajar.
Baca Juga: APINDO Sulteng dan PLN Suluttenggo Bahas Krisis Listrik, Diesel Disiapkan untuk Jaga Dunia Usaha
Program ini akan melibatkan pengusaha anggota APINDO dan praktisi BTN untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa, pelajar, serta pelaku UMKM. Kegiatan dapat dikemas dalam bentuk seminar, lokakarya, diskusi kelompok terarah (FGD), hingga webinar seputar bisnis, perbankan, dan literasi keuangan.
Kedua pihak juga membuka ruang kolaborasi publikasi melalui artikel opini, gagasan, dan analisis ekonomi-bisnis di media cetak maupun digital lokal. Upaya ini diharapkan memperluas literasi keuangan sekaligus membangun pemahaman masyarakat mengenai peluang kewirausahaan.
Dalam kesepakatan tersebut, BTN bertanggung jawab menyediakan produk dan fasilitas perbankan serta memproses pengajuan pembiayaan anggota APINDO secara profesional. Sementara APINDO berperan menyosialisasikan fasilitas tersebut dan mengoordinasikan kebutuhan anggotanya.
Namun, terdapat batasan penting dalam kerja sama ini. APINDO tidak bertindak sebagai penjamin atau guarantor atas kredit yang diberikan BTN kepada anggota maupun karyawan perusahaan anggota.
Dengan demikian, tanggung jawab atas kewajiban kredit dan risiko pembiayaan tetap berada dalam hubungan antara BTN dan debitur masing-masing.
PKS tersebut berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
Melalui kolaborasi ini, BTN dan APINDO diharapkan mampu membangun ekosistem pembiayaan yang tidak hanya berorientasi pada penyaluran kredit, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas produksi, perluasan pasar, serta penguatan daya saing pengusaha lokal.
Tantangannya kini adalah memastikan kemitraan tersebut benar-benar berujung pada realisasi pembiayaan dan tumbuhnya usaha produktif, sehingga potensi ekonomi Sulawesi Tengah tidak sekadar menjadi peluang di atas kertas.(*/ron)
Editor : Rony Sandhi