Ketua DPP APINDO Sulteng Soroti Tantangan Energi dan Hilirisasi Ekonomi

Rina Abd Halik • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 14:12 WIB
Ketua DPP APINDO Sulawesi Tengah (Sulteng), Wijaya Chandra.(Rina/Radar Palu).
Ketua DPP APINDO Sulawesi Tengah (Sulteng), Wijaya Chandra.(Rina/Radar Palu).

RADAR PALU – Ketua DPP APINDO Sulawesi Tengah (Sulteng), Wijaya Chandra, menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi dunia usaha dan perekonomian daerah, khususnya terkait ketersediaan energi, hilirisasi, serta pengelolaan sumber daya alam. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi saat ini masih banyak ditopang sektor pertambangan.

Menurut Wijaya, Sulteng memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan dibutuhkan secara nasional maupun global. Namun, sektor pertambangan tidak dapat menjadi satu-satunya tumpuan ekonomi karena sumber daya tambang memiliki keterbatasan.

“Tidak ada pertambangan yang abadi, minyak akan habis kemudian juga nikel akan habis. Tapi itu tidak akan menghentikan kebutuhan permintaan energi,” ujar Wijaya dalam pemaparannya pada kegiatan TICEB pada Selasa (6/10/2026).

Baca Juga: Pemkab Morut Gandeng Untad Tingkatkan Kompetensi ASN

Ia menyimpulkan tantangan pengusaha saat ini meliputi sulitnya mendapatkan BBM. Tidak hanya pengusaha tetapi seluruh lapisan masyarakat saat ini merasakan tantangan tersebut. 

“Semua lapisan masyarakat merasakan sulitnya mendapatkan BBM, sebab tanpa BBM tidak mungkin semua produk dapat tersalurkan dan distribusikan. Itu lah tantangan kita,” ungkapnya. 

Wijaya juga menyoroti persoalan pasokan listrik. Ia menggambarkan kondisi pelaku usaha, termasuk sektor perhotelan dan UMKM, yang tetap membutuhkan listrik untuk menjalankan aktivitasnya.

Baca Juga: Panen Perdana Tomat di Kawatuna, Pemkot Palu Dorong Pengendalian Inflasi

Di sisi lain, Wijaya menilai kekayaan sumber daya alam Sulteng tidak hanya berada di sektor pertambangan. Ia menyebut potensi pertanian, perkebunan, peternakan, dan kelautan perlu mendapat perhatian dalam agenda hilirisasi.

Menurutnya, komoditas seperti kelapa, kakao, cengkeh, durian, bawang, dan hasil laut memiliki peluang untuk dikembangkan dari hulu hingga hilir. Ia juga mendorong kalangan akademisi untuk mengkaji potensi komoditas lokal Sulteng agar memiliki nilai tambah dan pengakuan yang lebih kuat.

Wijaya turut menyoroti dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan. Ia menyebut masyarakat di Kota Palu turut merasakan dampak berupa asap dan abu, sementara manfaat dari penerimaan pajak dinilai belum seimbang dengan dampak yang dirasakan masyarakat.

Baca Juga: 78 Mahasiswa STIFA Pelita Mas Palu KKN di Morut

“Kita menerima akibatnya tapi kita tidak menerima berkatnya. Tentunya tadi kita lebih berpedoman tentang ekonomi hijau, kalau tambang ini cuman banyak menghijaukan pusat lebih baik kita menghijaukan provinsi kita sendiri,” katanya. 

Karena itu, ia mendorong penerapan ekonomi hijau dengan tidak hanya berfokus pada sumber daya yang berada di bawah tanah, tetapi juga menjaga dan mengembangkan potensi yang berada di atas tanah.

Dalam kesempatan tersebut, Wijaya juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ia mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk mengambil peran dalam membangun ekonomi daerah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Harmonisasi Dua Ranperbup Parimo untuk Perkuat Perlindungan dan Kualitas Guru

Wijaya berharap pengembangan ekonomi Sulteng ke depan tidak hanya bertumpu pada kekayaan tambang, tetapi juga mengoptimalkan potensi pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan, serta sektor lainnya secara berkelanjutan.

“Di negeri yang kaya ini, bukan cuma di bawah tanah yang kita kelola, di atas tanah pun kita rawat dari hulu dan hilirnya,” pungkasnya.***

Editor : Rina Abd Halik
Sulteng. APINDO hilirisasi investasi Ekonomi Hijau