RADAR PALU - Universitas Tadulako (UNTAD) terus mendorong penguatan kolaborasi dalam mengembangkan perekonomian di Sulawesi Tengah melalui pelaksanaan Tadulako International Conference on Economics and Business (TICEB) Tahun 2026 yang digelar oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNTAD.
Dalam pelaksanaannya, TICEB menghadirkan sejumlah pembicara utama yang berasal dari Australia, Turki, India dan Pakistan serta hadir pula Guru Besar dan pakar ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tadulako (Untad), Moh. Ahlis Djirimu.
Rektor UNTAD, Prof. Amar mengatakan bahwa kehadiran para pembicara dari berbagai negara tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan sekaligus menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dan kekuatan ekonomi lokal di Sulawesi Tengah.
Baca Juga: ISPA Melonjak Di Tengah Gemerlap Hilirisasi Nikel Sulteng, Safri: Sinyal Darurat Kesehatan!
“Dengan hadirnya para pembicara ini kita bisa mendapatkan semacam pengetahuan lain yang ada di beberapa negara untuk bisa kita implementasikan di wilayah ini,” ujar Amar kepada media saat ditemui pada Senin (5/10/2026).
Oleh karena itu, TICEB dirancang tidak hanya sebagai forum akademik, tetapi juga sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan kalangan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat.
Keterhubungan tersebut, kata Amar, menjadi sangat penting bagi masyarakat di Sulawesi Tengah yang memiliki potensi ekonomi yang sangat besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, UMKM, Industri, serta ekonomi kreatif.
Baca Juga: Sampaikan Selamat HUT ke-81 TNI, Safri Tekankan Pentingnya Sinergi TNI dan Rakyat
“Namun, potensi saja tidak cukup. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita mentransformasi berbagai sumber daya tersebut menjadi pengetahuan, inovasi, produktivitas, daya saing dan keberlanjutan ekonomi,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa diskusi dalam kegiatan TICEB harus mampu meningkatkan pemahaman terhadap berbagai tantangan nyata sekaligus memberikan kontribusi bagi terwujudnya transformasi yang bermakna, tidak hanya di lingkungan akademik tetapi juga di tengah masyarakat.
“Maka dari itu, saya sangat meyakini bahwa pengetahuan harus mampu menciptakan dampak nyata. Hasil penelitian harus terhubung dengan kebijakan. Kebijakan harus diterjemahkan ke dalam praktik, kemudian praktik pada akhirnya harus memberikan nilai tambah kepada masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga: IDI Sulawesi Tengah Naik 0,69 Poin, Sejumlah Indikator Demokrasi Masih Jadi Sorotan
Pada kesempatan itu, Amar mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan forum tersebut dalam menguji gagasan, memperluas wawasan serta membangun kolaborasi yang terus berlanjut bahkan setelah kegiatan berakhir.
Menurutnya, masa depan perekonomian tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki tetapi juga oleh kemampuan dalam mentransformasikan sumber daya menjadi pengetahuan, inovasi dan kesejahteraan bersama.
Ia berharap melalui internasional konferensi ini tidak hanya menghasilkan makalah ilmiah dan presentasi. Melainkan menghadirkan gagasan baru, kolaborasi riset, kemitraan baru antar peserta dan yang terpenting adalah solusi nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: TICEB 2026 di Palu Hadirkan Akademisi Lima Negara Bahas Transformasi Ekonomi Global
“Semoga TICEB 2026 tidak hanya dikenang sebagai sebuah konferensi tentang transformasi ekonomi, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya transformasi yang benar-benar bermakna,” tandasnya.***
Editor : Rina Abd Halik