RADAR PALU – Upaya pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana terus dilakukan di Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memberikan pendampingan kepada puluhan pelaku usaha agar mampu kembali bangkit sekaligus memperkuat usahanya agar lebih tangguh dan berkelanjutan.
Pulau Siberut memiliki karakteristik geografis yang menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan usaha masyarakat. Keterbatasan akses dan kondisi wilayah yang masuk kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) membuat penguatan kewirausahaan membutuhkan pendampingan secara langsung dan berkelanjutan.
Untuk menjangkau wilayah tersebut, tim Kementerian UMKM harus menempuh perjalanan sekitar 11 hingga 14 jam. Perjalanan panjang itu dilakukan untuk menemui langsung para wirausaha terdampak bencana sekaligus memastikan mereka mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Mahasiswa Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Kost Ayam Jago Tondo
Sebanyak 85 pengusaha UMKM di Pulau Siberut menjadi sasaran program pemulihan yang dilaksanakan Kementerian UMKM. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pemulihan aktivitas usaha, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat fondasi bisnis agar pelaku usaha lebih adaptif menghadapi berbagai tantangan.
“Pemulihan tidak hanya tentang bagaimana usaha bisa kembali berjalan, tetapi juga bagaimana wirausaha menjadi lebih siap, adaptif, dan mampu mengembangkan usahanya,” ujar perwakilan Kementerian UMKM Adi Daen Fahmi dalam kegiatan Pendampingan Perluasan Akses Pembiayaan Wirausaha Terdampak Bencana di Kepulauan Mentawai, Rabu (30/9/2026).
Pendampingan dilakukan melalui tiga bentuk intervensi sesuai dengan kebutuhan pengembangan usaha. Sebanyak 32 pengusaha UMKM mendapatkan pendampingan untuk memperluas akses pembiayaan.
Baca Juga: Ulfa Keluhkan Mikrofon di Rapat Paripurna DPRD Palu, Tegaskan Hak Anggota Sampaikan Aspirasi
Kemudian, 28 pengusaha memperoleh penguatan kapasitas dan kemampuan pengelolaan usaha. Sementara 25 pengusaha lainnya difasilitasi untuk memperluas akses pasar.
Dalam kegiatan tersebut, para pelaku usaha mendapatkan penguatan mengenai kesiapan mengakses pembiayaan, pengembangan produk, digitalisasi usaha, strategi memperluas pasar, hingga membangun kemitraan.
Fasilitasi juga dilakukan bersama Bank Nagari dan lembaga inkubator sebagai bagian dari upaya menciptakan ekosistem pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Mahasiswa Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Kost Ayam Jago Tondo
“Selain berupaya mengembalikan aktivitas usaha pascabencana, lebih jauh lagi kami ingin mewujudkan wirausaha yang tangguh, adaptif, produktif, dan berdaya saing,” kata Adi Daen.
Menurutnya, pemulihan usaha tidak seharusnya berhenti ketika aktivitas bisnis kembali berjalan. Para pelaku usaha juga perlu memiliki kemampuan pengelolaan usaha yang lebih baik, akses terhadap sumber pembiayaan yang sesuai, serta pasar yang mampu mendukung pertumbuhan usaha.
Karena itu, Kementerian UMKM terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga inkubator, lembaga jasa keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membuka akses yang lebih luas bagi pelaku UMKM terhadap pembiayaan, peningkatan kapasitas, pengembangan produk, serta pasar.
Baca Juga: DLH Palu Akui Armada Sampah Masih Kurang Meski Dapat Bantuan 48 Kendaraan dari CPM
Dukungan layanan SAPA UMKM turut dihadirkan sebagai sarana informasi dan fasilitasi bagi para wirausaha. Layanan tersebut diharapkan dapat mempermudah pelaku UMKM memperoleh informasi dan mengakses berbagai layanan pengembangan usaha sesuai kebutuhan.
Dengan pendampingan yang berkesinambungan dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, pemulihan usaha di Siberut diharapkan tidak hanya mengembalikan aktivitas ekonomi pascabencana.
Lebih dari itu, proses tersebut diharapkan menjadi momentum untuk membangun wirausaha yang semakin mandiri, tangguh, produktif, adaptif, dan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.***
Editor : Rina Abd HalikSumber : https://umkm.go.id/