RADAR PALU – Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, membagikan sejumlah tips pengelolaan keuangan bagi generasi Z atau Gen Z, khususnya untuk menghadapi kebiasaan doom spending.
Mardiyah mengatakan bahwa kebiasaan Doom Spending tersebut dapat terjadi ketika seseorang mengalami stres dan melampiaskannya dengan berbelanja.
“Jadi polanya itu kalau dia stres dia akan belanja, kemudian habis dia belanja dia lega sesaat. Terus pas dia cek saldo, kenapa saldonya itu semakin berkurang, dia semakin stres, akhirnya dia belanja lagi. Jadi siklusnya seperti itu,” ujar Mardiyah saat ditemui pada Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Ketua DPRD Kota Palu Rico Djanggola, Soroti Masa Depan Gedung DPRD Palu, Proyeksi 2029 Jadi Perhatia
Melalui Hannah Asa Indonesia, Mardiyah mengatakan pihaknya ingin membantu memutus siklus doom spending yang dialami Gen Z.
Menurutnya, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mulai menerapkan kehidupan dengan mindfulness atau kesadaran terhadap kondisi diri.
“Kita harus kembali ke dirinya kita bahwa memang kita ini masa fase transisi. Jadi transisi ke dewasa,” ujarnya.
Baca Juga: Banggar DPRD Palu Usul Pasar di Kawasan Huntap 1, Dinas PU Sebut Perlu Analisis Jarak
Mardiyah mengatakan, masa transisi menuju kedewasaan juga diikuti berbagai hal yang perlu dihadapi, termasuk persoalan kesehatan mental dan masalah keuangan.
Karena itu, ia mendorong Gen Z mulai mengikuti kelas literasi keuangan yang dinilai relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
Langkah berikutnya adalah membuat tujuan keuangan. Menurut Mardiyah, uang perlu diberikan pos agar penggunaannya lebih terarah. Ia menyebut tujuan keuangan dapat dibagi menjadi tiga pos, yakni jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Baca Juga: BEI Sulteng Perkuat Edukasi Pasar Modal Lewat Sekolah Pasar Modal
Selain membuat tujuan keuangan, Mardiyah menyarankan Gen Z membangun fondasi keuangan dengan mengumpulkan dana darurat.
Ia menyebut terdapat formula yang dapat digunakan untuk menentukan dana darurat. Bagi orang yang belum menikah, menurutnya, dana darurat minimal enam kali total pengeluaran yang disimpan di rekening tabungan.
Mardiyah juga menekankan pentingnya memisahkan rekening transaksi dengan rekening dana darurat.
“Jadi harus dipisahkan antara rekening tabungan transaksi sama rekening dana darurat. Tidak boleh sama,” katanya.
Baca Juga: Sambut Hari Tani, Aliansi Mahasiswa Pertanian Desak Pemerintah Sulteng Lindungi Lahan Produktif
Menurutnya, pemisahan rekening tersebut diperlukan agar dana yang telah disiapkan tidak mudah digunakan untuk transaksi atau belanja.
Mardiyah kemudian mencontohkan penggunaan tabungan wadiah di BSI sebagai salah satu pilihan rekening untuk menyimpan dana darurat.
Selain membangun dana darurat, Mardiyah mengingatkan Gen Z untuk menghindari pinjaman.
Baca Juga: Dituding Minta Rp5 Juta, Kejari Palu Beri Klarifikasi
Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan kondisi Gen Z yang disebut banyak terjebak pinjaman, termasuk penggunaan paylater untuk berbelanja.
Ia berharap Gen Z dapat lebih memahami pengelolaan keuangan dan mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih terarah.***
Editor : Rina Abd Halik