APINDO Sulteng Dorong Warkop Harapan Jadi Warisan Kuliner Kota Palu

Rony Sandhi • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 21:40 WIB
Ketua DPP APINDO Sulteng, Wijaya Chandra (kiri) bersama Oscar, generasi keempat pengelola Warkop Harapan.(Istimewa)
Ketua DPP APINDO Sulteng, Wijaya Chandra (kiri) bersama Oscar, generasi keempat pengelola Warkop Harapan.(Istimewa)

RADAR PALU — Di tengah menjamurnya kedai kopi modern, Warkop Harapan di kawasan Ujuna, Kota Palu, tetap mempertahankan tradisi kopi yang diwariskan keluarga selama empat generasi.

Berada di simpang empat Jalan Danau Poso dan Jalan Sungai Moutong, Kelurahan Ujuna, Kecamatan Palu Barat, warung ini masih menggunakan cerek kuningan, saringan dan arang kayu bakar dalam proses penyeduhan kopi.
“Aroma khas dari arang kayu bakar inilah yang membuat cita rasa kopi menjadi lebih khas,” ujar Oscar, generasi keempat pengelola Warkop Harapan.

Baca Juga: Dari Palu untuk NTT, PSMTI-APINDO Sulteng Bantu Korban Bencana NTT

Menurut Oscar, usaha tersebut bermula dari Tan A Kui yang mendirikan Warung Kopi Harapan pada 1953. 

Pengetahuan meracik kopi disebut diperoleh Tan A Kui dari tradisi Hainan ketika kembali ke Cina. Namun, kaitan langsung tersebut masih berdasarkan cerita keluarga dan belum didukung dokumen sejarah yang memastikan prosesnya.

Tradisi itu kini berpadu dengan bahan baku lokal. Biji kopi Warkop Harapan diperoleh dari petani di Kulawi, Napu dan Palolo, kemudian disangrai sendiri oleh keluarga dengan tetap mempertahankan penggunaan kayu bakar.

Baca Juga: Rakerkonas APINDO ke-35 Dibuka di Makassar, Soroti Reformasi Hulu Sektor Riil untuk Perkuat Investasi dan Daya Saing

Selain kopi, warung tersebut dikenal dengan nasi kuning, telur setengah matang, jomu-jomu, roti bakar selai kaya hingga Roti Lamadjido yang dikaitkan dengan kebiasaan Rully Lamadjido, Wali Kota Palu periode 1995–2000.

Pengunjungnya pun beragam, mulai pejabat, pengusaha, wartawan hingga masyarakat umum. Warkop menjadi ruang perjumpaan lintas latar belakang.

Ketua APINDO Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, menilai Warkop Harapan bukan sekadar usaha keluarga, tetapi memiliki nilai sejarah dan ekonomi lokal yang perlu dirawat.
“Usaha yang dilakoni Oscar ini menjadi perhatian bagi APINDO Sulawesi Tengah, terutama bagaimana kita ikut merawat, menyebarluaskan, dan mendiseminasikan usaha-usaha yang memiliki latar belakang historis yang kuat agar terus hidup dan menjadi bagian dari perkembangan kota,” kata Wijaya.

Baca Juga: APINDO Sulteng Minta Evaluasi Kebijakan RKAB Tahunan demi Iklim Investasi

Menurutnya, usaha bersejarah tidak harus meninggalkan karakter lama untuk mengikuti tren. Justru identitas dan sejarah yang dipertahankan dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus bagian dari identitas Kota Palu.

Sementara Oscar memastikan resep warisan keluarga tetap dipertahankan.
“Kami tidak mengubah resep dari zaman kakek. Yang berubah paling-paling cuma jumlah gelas yang harus kami siapkan tiap pagi,” ujarnya.***

Editor : Rony Sandhi
Warkop Harapan Kopi Palu APINDO Sulteng sejarah Palu Ekonomi lokal