Pertumbuhan Ekonomi Kota Palu Mulai Menguat, Triwulan I 2026 Capai 5,96 Persen

Rina Khalik • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:55 WIB
Staf Ahli Muda BPS Kota Palu, Sri Astuti. (Rina/Radar Palu).
Staf Ahli Muda BPS Kota Palu, Sri Astuti. (Rina/Radar Palu).

RADAR PALU – Pertumbuhan ekonomi Kota Palu menunjukkan perkembangan positif pada triwulan I 2026. Berdasarkan data yang disampaikan Staf Ahli Muda BPS Kota Palu, Sri Astuti, pertumbuhan ekonomi secara year on year (yoy) meningkat dari 5,08 persen pada periode sebelumnya menjadi 5,96 persen.

Peningkatan tersebut ditopang tiga sektor utama yang mencatat pertumbuhan di atas 10 persen. Ketiganya yakni sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, sektor jasa keuangan, serta sektor administrasi pemerintahan.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencakup aktivitas hotel, restoran, hingga kafe. Sementara sektor jasa keuangan berkaitan dengan aktivitas peminjaman dan transaksi keuangan.

Baca Juga: Akses Uempanapa-Salubiro Terbuka, Warga Tak Lagi Pikul Motor

Adapun sektor administrasi pemerintahan turut memberikan dorongan melalui aktivitas belanja pegawai maupun pelaksanaan berbagai program pemerintah pada triwulan I 2026.

“Peningkatan ini disebabkan karena ditopang oleh tiga sektor utama yang nilai persentasenya di atas 10 persen,” ujar Sri Astuti.

Meski pertumbuhan pada triwulan I 2026 meningkat, jika dilihat secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Kota Palu dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perlambatan.

Baca Juga: Vivi Irade Kawal Aspirasi Warga Kayumalue hingga Masuk Anggaran

Pada 2021, pertumbuhan ekonomi Kota Palu tercatat 5,97 persen. Kemudian pada 2023 berada di angka 4,96 persen, turun menjadi 4,61 persen pada 2024, dan kembali melambat menjadi 4,36 persen pada 2025.

Sri menjelaskan, tingginya pertumbuhan ekonomi pada 2021 tidak dapat dilepaskan dari efek basis rendah atau low base effect setelah pandemi Covid-19.

Pada 2020, aktivitas ekonomi mengalami tekanan akibat pandemi. Sejumlah sektor seperti perhotelan, restoran, transportasi, industri, dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya mengalami penurunan aktivitas.

Baca Juga: Gerakan Pangan Murah dan Gelar Pangan Lokal Digelar di Palu

Ketika pandemi mulai mereda pada 2021 dan aktivitas masyarakat kembali dibuka, kegiatan ekonomi yang sebelumnya tertahan kembali bergerak. Kondisi tersebut kemudian membuat angka pertumbuhan ekonomi pada 2021 terlihat tinggi.

“Jadi sebenarnya ini bukan pertumbuhan asli, maksudnya pertumbuhan ini terjadi karena efek low base effect tadi. Persentase kenaikannya memang cukup besar, tapi sebenarnya ini adalah kembali ke kondisi normal,” jelasnya.

Menurutnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun terakhir bukan berarti Kota Palu mengalami kontraksi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi masih berada pada zona positif, namun mengalami perlambatan menuju kondisi normalisasi.

Baca Juga: Janji Perbaikan Jalan di Mamboro, Perkim : Target Pengaspalan Mulai September

Salah satu faktor yang turut memengaruhi perlambatan adalah moderasi pada sektor-sektor utama, khususnya administrasi pemerintahan. Efisiensi anggaran pemerintah disebut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi pada sektor tersebut.

Selain itu, sektor pertambangan juga mengalami pelemahan akibat berkurangnya permintaan material galian C ke IKN serta adanya perusahaan-perusahaan galian yang izinnya telah berakhir.

Untuk mendorong kembali pertumbuhan ekonomi Kota Palu, terdapat sejumlah langkah yang perlu diperhatikan. Salah satunya mempercepat realisasi belanja pemerintah karena memiliki bobot cukup besar dalam perhitungan PDRB.

Baca Juga: Akses Uempanapa-Salubiro Terbuka, Warga Tak Lagi Pikul Motor

Realisasi belanja juga diharapkan tidak menumpuk pada kuartal akhir. Selain itu, penyerapan APBD untuk proyek-proyek yang telah direncanakan perlu didorong sehingga penundaan proyek dapat dihindari.

Dorongan terhadap sektor konstruksi juga dinilai penting, antara lain melalui percepatan perizinan investasi properti serta memastikan proyek infrastruktur pemerintah berjalan sesuai jadwal.

Kota Palu juga perlu mendorong sektor-sektor penggerak ekonomi lainnya, termasuk jasa keuangan dan pariwisata. Pelaksanaan berbagai kegiatan atau event juga dapat menjadi bagian dari upaya mendorong aktivitas ekonomi.

Baca Juga: Kunker Mentan di Palu Berjalan Lancar, Kapolda Sulteng Tegaskan Komitmen Dukung Pertanian

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi salah satu sektor yang telah menunjukkan tren positif pada triwulan I 2026.

Di sisi lain, menjaga daya beli masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Stabilitas harga komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat perlu dijaga agar daya beli tetap terpelihara.

Sri juga menyinggung perkembangan digitalisasi transaksi di Kota Palu. Berdasarkan data Bank Indonesia hingga Mei 2026, transaksi QRIS di Kota Palu mencapai 17,09 juta transaksi atau sekitar 41,68 persen dari total transaksi QRIS di Sulawesi Tengah.

Baca Juga: Imbas Penerbangan Palu–Guangzhou: GBMNI Minta Pemerintah Lindungi Tenaga Kerja Lokal

“Sederhananya dari setiap 100 transaksi QRIS yang terjadi di Sulawesi Tengah, sekitar 42 persen itu transaksi berlangsung di Kota Palu,” katanya.

Menurut Sri, perkembangan transaksi digital tersebut menunjukkan bahwa Kota Palu memiliki potensi dalam penerapan digitalisasi transaksi, termasuk pergeseran dari pembayaran tunai menuju non-tunai.

Kemudahan transaksi melalui sistem pembayaran non-tunai dinilai dapat membantu masyarakat dalam melakukan pembelian serta memudahkan pedagang menerima pembayaran dan memutar kembali uang untuk membeli barang maupun jasa sebagai pasokan.

Baca Juga: Lurah Malotong Apresiasi Langkah Cepat Dinas Kesehatan Melakukan Fogging 

Perputaran transaksi yang lebih mudah tersebut pada akhirnya dapat mendorong aktivitas penjualan, perkembangan usaha, dan pertumbuhan ekonomi.

“Digitalisasi ini dapat membuat roda perekonomian berputar jauh lebih cepat dibandingkan dengan biasanya,” pungkasnya.***

Editor : Rina Khalik
BPS keuangan Pertumbuhan ekonomi kota palu digitalisasi