RADAR PALU — Generasi Z atau Gen-Z didorong tidak berhenti sebagai pencari kerja dan pengguna teknologi. Generasi yang tumbuh di tengah perkembangan digital itu justru ditantang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang usaha sekaligus lapangan pekerjaan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam program “Dialog Luar Studio” yang disiarkan RRI NET, Kamis (20/8/2026), dengan mengangkat tema “Gen-Z Berjiwa Entrepreneur”.
Dialog tersebut menghadirkan Ketua DPP APINDO Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra; Kepala SMA Karuna Dipa, Jusmin, S.Pd.; serta pengusaha muda Banua Sidat yang juga membidangi Perikanan di APINDO Sulteng, Handri Pinatik.
Baca Juga: Dari Palu untuk NTT, PSMTI-APINDO Sulteng Bantu Korban Bencana NTT
Dalam dialog itu, perkembangan teknologi digital dinilai telah membuka ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk membangun bisnis. Mulai dari pemasaran produk, pengembangan personal branding, hingga menciptakan model usaha baru.
Namun, kemampuan menggunakan teknologi saja dinilai belum cukup. Gen-Z juga dituntut memiliki mental kewirausahaan, kreativitas, keberanian mengambil peluang, kemampuan membaca pasar, serta ketahanan menghadapi risiko dan kegagalan.
Handri Pinatik mengatakan, Gen-Z perlu mengubah posisi dari sekadar pengguna teknologi dan konsumen produk digital menjadi kreator, inovator, sekaligus pelaku usaha.
Menurutnya, teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk hiburan maupun konsumsi, tetapi juga menjadi alat untuk menciptakan nilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Gen-Z perlu naik kelas dari sekadar pengguna teknologi dan konsumen produk digital menjadi kreator, inovator, dan wirausaha yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Penguatan jiwa entrepreneur juga dinilai tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. Pengalaman langsung, kreativitas, keberanian mencoba, serta kemampuan membaca persoalan di lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam membentuk karakter kewirausahaan.
Baca Juga: APINDO Sulteng Minta Evaluasi Kebijakan RKAB Tahunan demi Iklim Investasi
Kepala SMA Karuna Dipa, Jusmin, S.Pd., menekankan pentingnya peran sekolah dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Sekolah, kata dia, perlu memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas dan kemandirian. Termasuk mendorong keberanian mencoba dan kemampuan melihat persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar lulusan tidak hanya berorientasi mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan.
Baca Juga: APINDO dan Menteri Keuangan Bahas Hambatan Industri, DHE Ekspor, hingga Reformasi Regulasi
Dalam konteks pembangunan daerah, penguatan kewirausahaan Gen-Z juga menjadi peluang untuk mengembangkan potensi lokal menjadi produk dan jasa bernilai tambah.
Potensi tersebut dapat diperluas melalui pemanfaatan platform digital sehingga produk lokal tidak hanya menyasar pasar daerah, tetapi berpeluang menembus pasar nasional bahkan internasional.
Karena itu, pengembangan ekosistem kewirausahaan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, lembaga keuangan, hingga dunia industri dinilai memiliki peran masing-masing dalam membuka akses, pendampingan, pembiayaan, dan pasar bagi generasi muda.
Baca Juga: APINDO Sulteng dan Standard Chartered Singapura Bahas Peluang Jejaring Bisnis Global
Sementara itu, Wijaya Chandra menilai penguatan kewirausahaan Gen-Z sejalan dengan kebutuhan Indonesia menghadapi bonus demografi dan target Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, generasi muda yang memiliki kompetensi, karakter, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan akan menjadi kekuatan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Gen-Z bukan hanya generasi pengguna teknologi, tetapi generasi pencipta peluang,” tegas Wijaya.
Baca Juga: Momentum May Day, Apindo Sulteng Ajak Sinergi Hadapi Tekanan Ekonomi
Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi generasi muda: teknologi tidak cukup hanya dikuasai, tetapi harus mampu diubah menjadi karya, bisnis, dan peluang ekonomi yang memberi dampak bagi lingkungan sekitar.***
Editor : Rony Sandhi