RADAR PALU – PT. Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) terus mendorong digitalisasi transaksi bagi pedagang pasar dan pelaku UMKM di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah program, mulai dari cluster pasar, lapak pasar, hingga penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi BSI memperluas inklusi keuangan dan mendukung pengembangan usaha masyarakat, termasuk melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Kepala Cabang BSI Palu, Ahmad Yani, mengatakan bahwa salah satu kegiatan yang rutin dilakukan adalah program cluster pasar. Melalui program ini, tim marketing mikro BSI turun langsung ke sejumlah pasar dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Tim tersebut bertugas menjangkau pedagang sekaligus menggarap transaksi usaha yang selama ini masih dilakukan secara konvensional.
Baca Juga: Kontras Pernyataan Bahlil dan Kepmen 157/2026, Safri: Ucapan Jangan Berbeda dengan Kebijakan
“Kita turun ke cluster pasar untuk menggarap transaksi usaha mereka yang sebelumnya masih tradisional. Sekarang kita sedang mengarahkan mereka ke transaksi secara digital,” ujar Ahmad Yani kepada Radar Palu saat ditemui pada Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, digitalisasi transaksi di pasar membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah. Sosialisasi secara bersama dinilai penting agar pedagang dan masyarakat semakin memahami manfaat serta kemudahan transaksi digital.
Selain cluster pasar, BSI juga menjalankan program lapak pasar.
Program tersebut menyasar titik-titik strategis di kawasan pasar yang memiliki kios kosong. BSI menyewa lokasi tersebut dari pemilik secara tahunan untuk kemudian difungsikan sebagai ruang layanan sederhana dengan atribut BSI.
Baca Juga: Cegah Gratifikasi, BPJS Kesehatan Palu Ingatkan Seluruh Mitra
Tempat tersebut menjadi semacam mini bank yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai produk dan layanan BSI tanpa harus datang langsung ke kantor cabang.
Program tersebut diharapkan dapat semakin mendekatkan layanan perbankan kepada pedagang pasar dan pelaku UMKM.
Digitalisasi juga berjalan beriringan dengan upaya memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha. BSI sebagai salah satu bank penyalur KUR turut menawarkan fasilitas pembiayaan tersebut kepada pedagang pasar.
Baca Juga: Tiga Periode di DPRD Palu, Rusman Ramli Buka Peluang Naik Kelas ke Provinsi
Ahmad Yani mengatakan penjajakan dilakukan mulai dari pedagang hingga pemilik kios dengan skema pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha.
“Mulai dari yang di bawah Rp100 juta dan tanpa jaminan,” ujarnya.
Menurut dia, penyaluran KUR BSI terus menunjukkan pertumbuhan, baik secara bulanan maupun secara tahunan atau year on year.
Untuk Kota Palu, penggarapan sektor perdagangan diprioritaskan karena memiliki potensi yang besar. Sejumlah pasar besar menjadi sasaran awal, di antaranya Pasar Manonda, Pasar Masomba dan Pasar Tavanjuka.
Baca Juga: El Nino Bikin Air Pertanian Kawatuna Menyusut
“Dari pasar-pasar besar ini kita mulai menyisir, dari pedagang sampai pemilik kios. Fasilitas pembiayaannya tentu bervariasi,” katanya.
Ahmad Yani menambahkan, tahun ini menjadi momentum penting bagi BSI setelah resmi berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dengan status tersebut, BSI turut mengambil bagian dalam berbagai program pemerintah, termasuk program pembiayaan yang memiliki kuota penyaluran kepada masyarakat.
“Program pemerintah kita ikut garap. Ada beberapa program yang mendapatkan kuota penyaluran dan dibuka kembali untuk berbagai segmen usaha,” ujarnya.
Hal tersebut menjadi peluang untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM, khususnya sektor perdagangan yang menjadi salah satu penggerak ekonomi Kota Palu.
Baca Juga: Jalan 800 Meter di Mamboro Dijanjikan Diperbaiki, Rustia Tompo Desak Kejelasan Perkim
Di sisi lain, BSI mengakui belum memiliki program pembinaan UMKM khusus di Kota Palu. Program UMKM Center yang secara khusus menjadi wadah pembinaan saat ini tersedia di Makassar.
“Kalau di Palu ada. Tapi, belum massif,” katanya.
Di Palu, pembinaan UMKM masih dilakukan melalui berbagai kolaborasi dan program yang lebih luas, termasuk kerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan seperti Bank Indonesia.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan JKM Rp42 Juta kepada Ahli Waris Peternak Kambing di Baiya
BSI juga membuka akses bagi pelaku UMKM baru untuk mendaftarkan usaha melalui kanal resmi BSI. Pelaku usaha dapat mengisi data usaha dan menentukan lokasi kantor cabang terdekat untuk kemudian ditindaklanjuti oleh tim BSI.
Menurutnya, pembinaan UMKM membutuhkan pendampingan yang konsisten sejak usaha mulai dirintis.
“UMKM ini memang harus dikawal dari mulai nol sampai enam bulan. Dikawal betul sampai bertumbuh,” ungkapnya.
Baca Juga: Pramuka Cerdas Keuangan, OJK Perkuat Literasi Finansial Generasi Muda di Jambore Nasional XII 2026
Dalam aspek digitalisasi pembayaran, BSI menargetkan semakin banyak pedagang pasar di Kota Palu memiliki QRIS. Dengan QRIS, pedagang dapat menerima pembayaran secara digital menggunakan telepon seluler sehingga transaksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada uang tunai.
Saat ini penerapan QRIS di sejumlah pasar masih berada pada tahap perluasan dan telah digunakan oleh sebagian kios serta toko sembako.
BSI menilai penggunaan QRIS dapat memberikan sejumlah kemudahan, baik bagi pedagang maupun konsumen. Transaksi menjadi lebih praktis, tercatat dan dapat dilakukan tanpa harus menyediakan uang tunai.
Baca Juga: Tiga Periode di DPRD Palu, Rusman Ramli Buka Peluang Naik Kelas ke Provinsi
Ahmad Yani mengatakan BSI akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan agar penggunaan transaksi digital semakin meluas di lingkungan pasar. Upaya tersebut juga dinilai sejalan dengan agenda digitalisasi layanan dan penguatan UMKM di Kota Palu.
Dengan penguatan digitalisasi transaksi, akses pembiayaan KUR dan pendampingan UMKM, BSI berharap pelaku usaha di Kota Palu dapat semakin berkembang sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan pola transaksi di era digital.
“Target kita seluruh pedagang pasar bisa memiliki QRIS masing-masing,” pungkasnya.***
Editor : Rina Khalik