Pemprov Sulteng Dorong Ekosistem Ekspor Terintegrasi, UMKM Diminta Naik Kelas

Rina Khalik • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:58 WIB
Analis Perdagangan Ahli Muda Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tengah, Fikri. (Rina/Radar Palu).
Analis Perdagangan Ahli Muda Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tengah, Fikri. (Rina/Radar Palu).

RADAR PALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus mendorong penguatan ekosistem ekspor dengan melibatkan seluruh mata rantai usaha, mulai dari petani, pengumpul, industri, aggregator, perbankan hingga pelaku usaha.

Analis Perdagangan Ahli Muda Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tengah, Fikri, mengatakan pembangunan ekosistem menjadi salah satu kunci agar produk daerah mampu menembus pasar global secara berkelanjutan.

Menurutnya, Bank Indonesia saat ini turut mendorong keterhubungan antara pelaku usaha, aggregator dan perbankan. Sementara pemerintah daerah berperan dalam memberikan pendampingan, fasilitasi, serta membuka akses perdagangan bagi pelaku usaha.
Baca Juga: Kemenkum Sulteng Perkuat Pelayanan Publik Lewat Forum “Pasti Ada Solusi”

“Kalau pemerintah pusat, feedback-nya adalah devisa. Kalau daerah, harapannya adalah multiplier effect,” kata Fikri.

Ia menjelaskan, peningkatan ekspor tidak hanya memberikan pemasukan devisa, tetapi juga mendorong investasi, membuka lapangan kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.

“Semakin banyak produk daerah yang menembus pasar global, semakin kuat perekonomian daerah,” ujarnya.

Baca Juga: Puspenkum Kejagung Beri Penyuluhan Pencegahan Korupsi kepada Pemkab Sigi, Tekankan Peran APIP

Fikri menyebut Sulawesi Tengah memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Namun, pemerintah kini mendorong agar komoditas tersebut tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan melalui proses hilirisasi sehingga memiliki nilai tambah.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah kakao. Komoditas tersebut diarahkan untuk diolah menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi, seperti bubuk kakao, sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Hal serupa dilakukan terhadap komoditas kelapa dan durian. Pemerintah daerah terus mencari peluang investasi dan kerja sama, termasuk melalui kunjungan serta penjajakan pasar ke sejumlah negara seperti China.

Baca Juga: Fraksi PKS DPRD Sulteng Dorong Ranperda P4GN untuk Lindungi Generasi Muda dari Ancaman Narkoba

“Tujuannya supaya kelapa dan durian bisa menjadi produk yang terindustrialisasi dan memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Selain komoditas perkebunan, sektor perikanan juga dinilai memiliki peluang ekspor yang besar. Potensi udang Sulawesi Tengah, misalnya, disebut masih sangat terbuka untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan berorientasi pasar global.

Fikri mengakui pengembangan ekspor di daerah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait produktivitas, kualitas dan kesinambungan pasokan.
Baca Juga: HUT ke-74 Donggala, Takwin Dorong Pembangunan Merata dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

Karena itu, Disperindag terus bersinergi dengan berbagai instansi terkait, termasuk Badan Mutu, karantina dan perangkat daerah yang menangani pangan, untuk meningkatkan kualitas produk agar memenuhi persyaratan pasar ekspor.

Di sisi lain, investasi pada sektor agro dan agro-maritim juga masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah daerah dinilai perlu mendorong masuknya investasi agar potensi komoditas lokal dapat diolah lebih jauh di dalam daerah.

Dalam menjalankan tugasnya, pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, katalisator sekaligus promotor. Disperindag, kata Fikri, terus menyusun pengembangan industri dan roadmap, memberikan pendampingan kepada pelaku usaha serta membangun ekosistem usaha.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Edukasi Pelajar SMA Al-Azhar Mandiri Palu tentang Hukum dan Kekayaan Intelektual

Promosi produk daerah juga dilakukan melalui misi dagang dan business matching. Bahkan di tengah keterbatasan anggaran, upaya promosi tetap dilakukan dengan mengirimkan produk daerah untuk diperkenalkan di pasar yang potensial.

Salah satu program yang terus dijalankan adalah Klinik Ekspor. Layanan tersebut telah berjalan sekitar lima tahun dan memberikan konsultasi, edukasi, informasi serta pendampingan kepada pelaku usaha yang ingin berorientasi ekspor.

“Klinik ekspor ini kita coba untuk membantu UMKM agar bagaimana bisa tembus pasar ekspor,” katanya.

Baca Juga: Terlibat Pengeroyokan Security Metro Regency, HE Diciduk di Jalan Palu–Kulawi

Dalam praktiknya, Klinik Ekspor juga membantu pelaku usaha ketika menghadapi persoalan dalam proses pengiriman barang ke luar negeri. Pelaku usaha tersebut awalnya memanfaatkan digital marketing dan marketplace secara mandiri. Namun, ketika menghadapi persoalan logistik, pemerintah melalui Klinik Ekspor memberikan pendampingan hingga proses pengiriman kembali berjalan.

Klinik Ekspor Sulteng juga terhubung dengan Export Center Makassar untuk penguatan kapasitas pelaku usaha. Selain itu, Disperindag Sulteng turut berperan dalam kurasi pelaku usaha yang mendaftar pada program InaExport milik Kementerian Perdagangan.

Fikri mengatakan pihaknya juga mendorong agar semakin banyak UMKM di Sulawesi Tengah masuk dalam program “UMKM Bisa Ekspor” yang dicanangkan Kementerian Perdagangan.

Dalam program tersebut, pelaku usaha terlebih dahulu melalui proses kurasi. Setelah dinilai siap, mereka dapat direkomendasikan untuk mengikuti tahapan berikutnya, termasuk pitching dengan perwakilan perdagangan Indonesia di sejumlah negara.

Ia menegaskan, keberadaan layanan pemerintah di bidang ekspor bukan sekadar administrasi, tetapi juga memastikan pelaku usaha mendapat pendampingan ketika menghadapi hambatan.

“Pemerintah itu menampingi pelaku usaha dalam menghadapi hambatan dalam usahanya,” pungkasnya.***

Editor : Rina Khalik
Pendampingan UMKM ekspor sulawesi tengah umkm Disperindag