RADAR PALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mendorong komoditas lokal naik kelas dari sekadar bahan mentah menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.
Kakao, kelapa, durian hingga udang menjadi sejumlah komoditas yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk ekspor unggulan Sulawesi Tengah.
Analis Perdagangan Ahli Muda Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng, Fikri, mengatakan penguatan ekspor tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak.
Baca Juga: Bongkar Pos Terminal Manonda, Pencuri AC Diciduk Polisi
Ekosistem tersebut harus melibatkan petani, pengumpul, industri, aggregator, perbankan hingga pelaku usaha.
“Kalau pemerintah pusat, feedback-nya adalah devisa. Kalau daerah, harapannya adalah multiplier effect,” kata Fikri.
Menurutnya, semakin banyak produk daerah masuk pasar global, semakin besar pula dampaknya terhadap perekonomian daerah.
Baca Juga: Komisi C DPRD Palu Dorong Kabel Utilitas Ditanam di Bawah Tanah
Ekspor dinilai tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga berpotensi menarik investasi, membuka lapangan kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dorong Hilirisasi Komoditas
Fikri menyebut Sulteng memiliki sumber daya alam yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut tidak terus keluar dalam bentuk bahan mentah.
Karena itu, pemerintah mendorong hilirisasi agar komoditas memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Kakao menjadi salah satu komoditas yang diarahkan untuk diolah menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi, seperti bubuk kakao.
Pengembangan serupa menyasar kelapa dan durian. Pemerintah daerah terus menjajaki peluang investasi dan kerja sama perdagangan, termasuk dengan pasar China.
Baca Juga: Hasil RUPS LB Bank Sulteng, Koperasi Karyawan Resmi Jadi Pemegang Saham
“Tujuannya supaya kelapa dan durian bisa menjadi produk yang terindustrialisasi dan memiliki nilai tambah,” jelasnya.
Sektor perikanan juga tak luput dari perhatian. Potensi udang Sulteng dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan berorientasi pasar global.
Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama produktivitas, kualitas dan kesinambungan pasokan.
Baca Juga: Bandung, Titik Nol Lempar Bilah dan Kapak Indonesia
Disperindag Sulteng karena itu menggandeng berbagai instansi terkait, termasuk Badan Mutu, karantina dan perangkat daerah yang menangani pangan.
Langkah tersebut diperlukan agar produk yang dihasilkan pelaku usaha mampu memenuhi persyaratan dan standar pasar ekspor.
UMKM Didorong Tembus Pasar Ekspor
Penguatan ekspor juga diarahkan kepada pelaku UMKM. Disperindag Sulteng menjalankan Klinik Ekspor sebagai layanan konsultasi, edukasi, informasi dan pendampingan bagi pelaku usaha.
Program tersebut telah berjalan sekitar lima tahun.
“Klinik ekspor ini kita coba untuk membantu UMKM agar bagaimana bisa tembus pasar ekspor,” katanya.
Klinik Ekspor tidak hanya membantu dari sisi administrasi. Pelaku usaha juga mendapat pendampingan ketika menghadapi persoalan dalam proses pengiriman barang ke luar negeri.
Layanan tersebut terhubung dengan Export Center Makassar. Disperindag Sulteng juga terlibat dalam kurasi pelaku usaha yang mendaftar program InaExport milik Kementerian Perdagangan.
Fikri mengatakan pihaknya turut mendorong semakin banyak UMKM Sulteng masuk program “UMKM Bisa Ekspor”.
Pelaku usaha akan melalui proses kurasi. Jika dinilai siap, mereka dapat mengikuti tahapan lanjutan, termasuk pitching dengan perwakilan perdagangan Indonesia di sejumlah negara.
Menurut Fikri, pemerintah tidak semestinya hanya hadir sebagai regulator.
Pemerintah harus menjadi fasilitator, katalisator sekaligus promotor yang membantu pelaku usaha ketika menemukan hambatan dalam proses ekspor.
“Pemerintah itu menampingi. Pelaku usaha adalah operatornya,” pungkasnya. ***
Editor : Muhammad Awaludin