RADAR PALU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada Juni 2026 mencapai 51,47 persen. Angka tersebut meningkat 0,67 poin dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 50,80 persen.
Kenaikan ini menunjukkan aktivitas sektor perhotelan di Sulawesi Tengah masih bergerak positif seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan berbagai kegiatan yang berlangsung sepanjang pertengahan tahun.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis pada 3 Agustus 2026, peningkatan tingkat hunian hotel berbintang didorong oleh bertambahnya perjalanan dinas, agenda pemerintahan, kegiatan bisnis, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Baca Juga: Wagub Reny Serahkan Rancangan Perubahan KUA-PPAS APBD 2026 ke DPRD Sulteng
Selain itu, momentum libur sekolah juga turut memberikan kontribusi terhadap meningkatnya jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang.
Secara bulanan (month to month), TPK hotel berbintang mengalami kenaikan sebesar 0,67 poin, dari 50,80 persen pada Mei menjadi 51,47 persen pada Juni 2026.
Capaian tersebut menunjukkan tingkat okupansi hotel di Sulawesi Tengah tetap bertahan di atas angka 50 persen. Kondisi ini menjadi indikator bahwa permintaan terhadap jasa akomodasi masih cukup stabil.
Baca Juga: Pendapatan Sulteng Baru 44,32 Persen, Wagub Reny Paparkan Realisasi APBD 2026
BPS juga mencatat tamu domestik masih menjadi penyumbang utama tingkat hunian hotel di Sulawesi Tengah. Sementara itu, meningkatnya aktivitas MICE ikut memberikan dampak terhadap bertambahnya tingkat okupansi, khususnya di Kota Palu sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan bisnis.
Pertumbuhan ini dinilai menjadi sinyal positif bagi industri perhotelan yang dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan tren pemulihan.
Ke depan, sektor akomodasi diperkirakan masih memiliki peluang tumbuh seiring semakin banyaknya agenda pemerintahan, kegiatan bisnis, serta promosi destinasi wisata unggulan Sulawesi Tengah.
Destinasi seperti Kepulauan Togean, Danau Poso, hingga berbagai objek wisata alam lainnya diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.
Di sisi lain, peningkatan konektivitas transportasi dan penguatan infrastruktur pendukung pariwisata juga menjadi faktor penting dalam menjaga tingkat hunian hotel tetap stabil hingga akhir 2026.
BPS berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak terhadap pertumbuhan sektor pariwisata, jasa akomodasi, dan perekonomian Sulawesi Tengah secara keseluruhan.***
Editor : Muhammad AwaludinSumber : bps Sulawesi Tengah