RADAR PALU - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus memperkuat dukungan terhadap program hilirisasi komoditas unggulan daerah, seperti kakao, kelapa, dan kopi. Dukungan dilakukan melalui pendampingan kepada pelaku usaha, koordinasi dengan pemerintah pusat, hingga mendorong masuknya investasi industri pengolahan.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah Muhammad Nenk mengatakan, peran pemerintah daerah dalam program tersebut lebih difokuskan pada pendampingan dan koordinasi dengan kementerian.
“Peran kita itu melakukan pendampingan, koordinasi dan lainnya,” kata Muhammad Nenk saat ditemui pada Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Bayar Pajak Kendaraan, Ada Undian Umrah Gratis dari Pemprov Sulteng
Menurutnya, koordinasi dengan pemerintah pusat diperlukan agar data pengembangan bibit kakao di Sulawesi Tengah semakin akurat. Data tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan program hilirisasi.
Muhammad Nenk mengaku telah meninjau langsung penangkar bibit kakao di Kabupaten Poso. Menurutnya, perkembangan bibit di daerah tersebut sangat baik.
“Saya pernah sekali pergi melihat penangkar persemaian bibit kakao itu di Parigi, di Poso. Saya lihat memang luar biasa. Ada satu penangkar itu kurang lebih ada 4 juta bibit kakao, dan kalau menurut pengamatan saya pertumbuhannya bagus,” ujarnya.
Baca Juga: PT CPM Siapkan Terowongan 4 KM di Poboya, Safri: Awas Bencana Gempa dan Krisis Air Tanah!
Selain di Poso, penangkar bibit kakao di Kabupaten Parigi Moutong juga telah mampu menghasilkan sekitar 2 juta hingga 3 juta bibit.
Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus bersinergi dengan kementerian untuk memastikan data yang dimiliki sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Makanya sangat perlu kita melakukan koordinasi dengan kementerian untuk bersinergi terkait data ini,” katanya.
Muhammad Nenk mengatakan program hilirisasi juga sejalan dengan program prioritas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
“Kalau keterkaitan dengan program pemerintah strategis Presiden, kalau kita di sini dari sembilan Berani itu kita masuk di Berani Makmur. Ini pasti harapannya ke depan petani betul-betul bisa mendapatkan hasil dari proses ini,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga terus menjalankan berbagai kegiatan bersama Direktorat Jenderal Perkebunan, mulai dari Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, hingga pengembangan sumber daya manusia pekebun.
“Yang penting semua program pemerintah ini berjalan beriringan dengan program Bapak Gubernur sembilan Berani,” katanya.
Menurutnya, pemerintah daerah juga berperan mendampingi pelaksanaan program pemerintah pusat di lapangan.
“Peran kita betul-betul adalah memberikan pendampingan yang baik kepada teman-teman pelaku usaha ini,” ujarnya.
Baca Juga: Ketua MUI Palu Soroti Tragedi Pembunuhan Satu Keluarga dan Fenomena Main Hakim Sendiri
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, luas potensi kakao di Sulawesi Tengah mencapai sekitar 266.673 hektare dengan rencana produksi sekitar 196.210 ton per tahun.
Meski menjadi salah satu daerah penghasil kakao terbesar, Muhammad Neng menilai Sulawesi Tengah masih membutuhkan industri pengolahan agar nilai tambah komoditas dapat dinikmati di daerah.
“Kita ini termasuk penghasil kakao, bahan baku kakao yang besar, tapi tidak ada hilirisasi. Dalam artian, tidak ada pabrik, tidak ada pengolahan,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti fluktuasi harga kakao dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, harga sempat berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram pada awal tahun, namun kini kembali menembus sekitar Rp100 ribu per kilogram.
Baca Juga: PT IMIP Perkuat Komitmen Dekarbonisasi, Tanam Mangrove Serentak di Hari Mangrove Sedunia
Ia berharap ke depan ada investor yang membangun pabrik kakao di Sulawesi Tengah, terutama di wilayah sentra produksi seperti Parigi Moutong dan Poso. “Ketika ada orang tertarik membangun investasi, kita pemerintah harus memberi ruang,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah terus membuka peluang investasi agar hilirisasi komoditas unggulan dapat berkembang di Sulawesi Tengah.
“Mudah-mudahan ada yang mau membangun pabrik kakao di Sulawesi Tengah,” pungkasnya.***
Editor : Rina Khalik