Founder Hannah Asa Indonesia Ajak Jurnalis Bangun Kebiasaan Finansial Sehat dan Siapkan Dana Darurat

Rina Khalik • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 15:15 WIB
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah. (Rina/Radar Palu)
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah. (Rina/Radar Palu)

RADAR PALU - Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mengajak insan media membangun kebiasaan finansial yang sehat melalui perencanaan keuangan, penyediaan dana darurat, hingga investasi. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan LPS Media Meetup di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Mardiyah mengatakan edukasi keuangan yang dikembangkan Hannah Asa Indonesia memiliki tiga tujuan utama, yakni menutup kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku, membangun ketahanan finansial, serta mendorong peserta menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Pada kesempatan itu, Ia memperkenalkan konsep Hannah sebagai panduan dalam mengelola keuangan pribadi. Pada tahap Have Financial Awareness, Mardiyah mengingatkan pentingnya memiliki tujuan keuangan yang jelas, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Menurutnya, setiap orang juga perlu mengetahui kondisi keuangan dengan menghitung aset, utang, serta mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin.

“Salah satu tujuan jangka pendek yang wajib dimiliki adalah dana darurat. Dari riset kami,  kami sudah mengajar lebih dari dua puluh ribu bahkan kami hampir mencapai booth camp batch yang 100 saat ini, sekitar 70 persen belum memiliki dana darurat,” ujar Mardiyah pada Senin (27/7/2026).

Ia menilai dana darurat menjadi fondasi penting agar keluarga tetap mampu menghadapi kondisi tak terduga, termasuk kebutuhan pendidikan anak maupun kehilangan penghasilan.

Selanjutnya, melalui konsep Allocate Wisely, Mardiyah mengajak peserta mengelola keuangan secara bijak. Menurutnya, banyak orang gagal mengatur keuangan karena tidak memiliki tujuan finansial, mudah tergoda promosi, tidak dapat membedakan kebutuhan dan keinginan, serta tidak menyiapkan dana untuk pengeluaran berkala.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyisihkan sebagian penghasilan untuk berbagi, menyiapkan dana darurat, investasi, dana pensiun, serta pengembangan diri.

“Kita tidak boleh hanya bekerja mencari uang, tetapi juga harus meningkatkan kapasitas diri agar mampu mengelola keuangan dengan baik,” katanya.

Pada tahap Nurture Healthy Financial Habit, Mardiyah mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan buruk, terutama menggunakan utang untuk membiayai gaya hidup. Menurutnya, kebiasaan finansial yang sehat dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti menyisihkan uang secara konsisten dan melakukan pencatatan keuangan.

Ia juga mengingatkan pentingnya memiliki perlindungan melalui asuransi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Mardiyah juga memperkenalkan konsep piramida keuangan yang terdiri dari lima tahapan, yakni menjaga arus kas tetap sehat, mengelola kredit, memiliki dana darurat dan asuransi, berinvestasi, menyiapkan dana pensiun, hingga mendistribusikan kekayaan.

Di akhir, Mardiyah mengajak para jurnalis ikut menyebarluaskan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat.

“Ekonomi dan literasi keuangan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Kami berharap teman-teman media bisa ikut mengedukasi masyarakat agar semakin cerdas mengelola keuangan,” harapnya.***

Editor : Rina Khalik
Hannah Asa Indonesia Perencanaan Keuangan Literasi Keuangan investasi lps