Industri Pengolahan Kakao RI Tumbuh, Volume Grinding Melonjak 30,1 Persen

Rina Khalik • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 11:53 WIB
Foto bersama dalam kegiatan Indonesia International Cocoa Confernce pada Jumat (24/7/2026). FOTO: DOK KEMENPRIN RI
Foto bersama dalam kegiatan Indonesia International Cocoa Confernce pada Jumat (24/7/2026). FOTO: DOK KEMENPRIN RI

RADAR PALU - Industri pengolahan kakao nasional mencatat kinerja positif pada triwulan II 2026. Di tengah fluktuasi harga kakao dunia, perubahan pola permintaan, dan tantangan penerapan prinsip keberlanjutan, volume pengolahan (grinding) kakao Indonesia justru melonjak 30,1 persen.

Berdasarkan Grind Statistics Q2 2026, volume pengolahan kakao nasional mencapai 110.410 ton pada triwulan II 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 84.844 ton.

Selain itu, produksi olahan kakao juga tumbuh 8,2 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Capaian tersebut mencerminkan daya saing industri pengolahan kakao nasional yang terus menguat sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengolahan kakao dunia.

Baca Juga: Enam Organisasi Pers Desak Prabowo Minta Maaf atas Penyebutan Wartawan sebagai 'Londo Ireng

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah terus mendorong penguatan industri pengolahan kakao melalui strategi hilirisasi agar Indonesia menjadi salah satu pusat grinding kakao berskala global.

"Kemenperin terus mempercepat transformasi industri kakao melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kemitraan antara petani dan industri, penerapan standar mutu, serta akselerasi implementasi prinsip keberlanjutan," kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (24/7).

Menurut Agus, kapasitas industri pengolahan kakao Indonesia saat ini menjadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia. Indonesia bahkan menyumbang sekitar 49 persen dari total volume industri pengolahan kakao di Asia.

Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Wawali Apresiasi Pertumbuhan Industri Roti Lokal

Kontribusi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pilar utama industri kakao regional sekaligus memperkuat perannya dalam rantai pasok dan perdagangan produk kakao olahan dunia.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, penyelenggaraan Indonesia International Cocoa Conference 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, kolaborasi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas kakao nasional, mempercepat transformasi industri, memperluas akses pasar, serta mendorong sistem produksi kakao yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Baca Juga: Wapres Gibran Kembali Desak Pengesahan RUU Perampasan Aset untuk Perkuat Pemberantasan Korupsi

Konferensi yang mengusung tema "The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World" itu juga menjadi penegasan komitmen Indonesia untuk tidak hanya menjadi negara penghasil kakao, tetapi juga sebagai pusat industri pengolahan kakao berkelas dunia yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Melalui penguatan hilirisasi dan penerapan standar keberlanjutan, pemerintah berharap industri kakao nasional mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani, pelaku industri, hingga perekonomian nasional.(*)

 

Editor : Rina Khalik
Sumber : www.kemenprin.go.id
Kemenperin Industri Kakao Kementerian Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita Kakao Indonesia