Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Peternak Ayam Petelur Palu Keluhkan Serbuan Telur Luar Daerah

Rina Khalik • Selasa, 9 Juni 2026 | 08:42 WIB
DITEKAN PASOKAN LUAR : Harga telur di tingkat peternak ikut merosot dan menyebabkan penumpukan stok hingga 10 hari produksi di kandang.(RINA ABD HALIK)
DITEKAN PASOKAN LUAR : Harga telur di tingkat peternak ikut merosot dan menyebabkan penumpukan stok hingga 10 hari produksi di kandang.(RINA ABD HALIK)

RADARPALU - Derasnya pasokan telur ayam dari luar daerah membuat peternak lokal di Kota Palu menghadapi tekanan ganda. 

Selain penjualan yang menurun dalam satu bulan terakhir, harga telur di tingkat peternak juga ikut merosot sehingga menyebabkan penumpukan stok hingga 10 hari produksi di kandang.

Ketua Kelompok Peternak Saudara Unggas Mandiri, Rustam, mengatakan penjualan telur dari peternak lokal mengalami penurunan yang cukup signifikan serta masuknya pasokan telur dari luar daerah.

Baca Juga: Setelah Sempat Anjlok Rp1.000 per Kg, Harga Tomat di Tingkat Petani Tembus Rp9 Ribu per Kg

“Yang di pasar itu beredar khususnya di Kota Palu kebanyakan telur dari Sidrap,” ujar Rustam pada Senin (8/6/2026).

Menurut Rustam, kondisi tersebut membuat peternak lokal kesulitan bersaing karena telur dari luar masuk dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah.

“Iya berdampak. Mereka datangkan besar-besaran ke Palu dengan harga yang relatif sangat murah sampai dijual 3 rak Rp100 ribu,” katanya.

Baca Juga: Nasyiatul Aisyiyah Dorong Perempuan Cerdas Kelola Keuangan Rumah Tangga

Akibat kondisi tersebut, harga jual telur di tingkat peternak lokal ikut mengalami penurunan. Saat ini telur dijual sekitar Rp40 ribu per rak, turun dibanding sebelumnya yang sempat berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per rak.

“Sekarang kita mengikuti harga pasar, masih di angka Rp40 ribu per rak,” ungkapnya. 

Penurunan penjualan juga menyebabkan terjadinya penumpukan stok di kandang. Jika biasanya stok telur maksimal hanya bertahan sekitar tiga hari produksi, kini penumpukan mencapai satu minggu hingga 10 hari.

 

“Yang biasanya maksimal telur di kandang itu menumpuk tiga hari produksi, sekarang sudah sampai satu minggu sampai 10 hari,” ungkap Rustam.

Ia menyebut kondisi tersebut mulai dirasakan pasca Lebaran Idul Adha dan telah berlangsung sekitar satu hingga satu setengah bulan terakhir. Meski demikian, pihaknya terus berupaya menyalurkan hasil produksi agar stok tidak semakin menumpuk.

“Kami berusaha kasih jalan, buat tim untuk keluar menjual semua supaya tidak terlalu menumpuk di kandang. Saya juga menghubungi dinas-dinas terkait yang biasa mengadakan pasar-pasar murah supaya kita bisa mengurangi stok yang ada,” tuturnya.

Baca Juga: Beredar Video Siluet di Gorden Jendela Hotel Palu Jadi Sorotan Warga

Dengan kondisi itu, peternak berharap adanya kebijakan yang dapat melindungi peternak lokal dari derasnya pasokan telur dari luar daerah.

Aspirasi tersebut telah disampaikan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait, apakah akan kembali memberlakukan pengawasan di perbatasan yang masuk di kota Palu seperti tahun-tahun sebelumnya. 

“Kami kemarin ketemu dengan dinas terkait dan Pemda bagaimana ada kebijakan yang melindungi peternak lokal,” pungkasnya.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#telur Palu #peternak ayam petelur Palu #telur Sidrap #peternak lokal Sulawesi Tengah #Harga telur Palu