RADARPALU – Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan pelaku usaha tahu di Kota Palu. Meski harga bahan baku melonjak dari Rp11 ribu menjadi Rp12.500 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir, pengusaha masih memilih bertahan dan belum menaikkan harga jual tahu kepada konsumen.
Pemilik pabrik tahu Ubfarm, Sutran Indah Haryono mengaku bahwa kenaikan harga kedelai sudah berlangsung sejak Mei 2026 dan belum menunjukkan tanda penurunan.
“Biasanya naik sebentar, seminggu naik terus turun, ini sudah hampir 3 pekan, bahkan masuk pekan keempat tidak ada penurunan,” ujar Sutran saat ditemui pada Rabu (3/6/2026).
Baca Juga: Inflasi Sulteng Mei 2026 Capai 2,77%, Transportasi Jadi Penyumbang Utama
Meski harga bahan baku mengalami kenaikan, para pengusaha tahu masih berupaya mempertahankan harga jual produk mereka. Sutran mengaku hingga saat ini belum ada strategi khusus yang dilakukan para pelaku usaha dalam menghadapi kondisi tersebut.
“Untuk saat ini strateginya belum ada. Karena kita ini pengusaha tahu banyak, belum kompak. Sebenarnya kalau kompak harus naik ya naik. Tapi untuk saat ini belum ada, bertahan saja dulu,” ujarnya.
Ia menyebut harga tahu yang dijualnya masih tetap normal, yakni Rp120 ribu per loyang dan belum mengalami kenaikan. “Harga tahunya masih sama. Per loyangnya Rp120 ribu. Itu harga normal, belum ada kenaikannya,” katanya.
Baca Juga: Pansus Dibubarkan, Komposisi AKD Fraksi PDIP di DPRD Sulteng Berubah
Menurut Sutran, kenaikan harga kedelai memberikan pengaruh besar terhadap biaya produksi. Apalagi sejumlah kebutuhan lain juga mengalami kenaikan harga.
“Berpengaruh sekali. Sedangkan BBM kita tau sendiri sudah naik. Untungnya yang subsidi belum,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak kenaikan harga tidak hanya dirasakan pada bahan baku utama, tetapi juga kebutuhan pendukung produksi.
Meski demikian, Sutran mengatakan belum ada rencana menaikkan harga jual tahu selama harga kedelai masih berada pada kisaran saat ini.
“Selama masih di angka itu kemungkinan belum. Nanti kalau sudah melebihi lagi, ya jelas sudah naik. Mau tidak mau naik,” katanya.
Terkait pasokan bahan baku, Sutran menjelaskan kedelai yang digunakan masih berasal dari luar daerah karena tidak tersedia pasokan lokal. “Kalau impor itu tetap dari Surabaya, Jakarta. Karena lokal enggak ada,” ujarnya.
Baca Juga: 13 Kali Berturut-turut Raih WTP, Mohammad Safri: Bukti Pengelolaan Keuangan Daerah Clean and Clear
Dalam menjalankan usahanya, kebutuhan kedelai yang digunakan rata-rata mencapai 500 hingga 600 kilogram dalam satu minggu, tergantung jumlah pesanan.
Sutran berharap harga kedelai dapat segera stabil sehingga tidak semakin membebani pelaku usaha kecil.
“Harapannya cepat stabil harga kedelai. Jangan terlalu naik. Kasihan UMKM pengusaha tahu tempe,“ harapnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi