Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Rupiah Melemah ke Rp17.671, Ekonom Soroti Risiko Global

Muhammad Awaludin • Senin, 18 Mei 2026 | 13:49 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah tekanan ekonomi global
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah tekanan ekonomi global

 

RADAR PALU - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada Senin (18/5). Berdasarkan pantauan kurs di Google pukul 11.40 WIB, satu dolar AS tercatat setara Rp17.671. Pelemahan rupiah ini dinilai dipengaruhi tekanan global dan kondisi domestik secara bersamaan. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, mengatakan kondisi tersebut bukan sekadar gejolak harian. Menurut dia, pasar global sedang berada dalam fase risk-off terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Investor disebut cenderung memindahkan dana ke aset aman seperti dolar AS di tengah ketidakpastian global. Situasi itu membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar. 

Baca Juga: Toyota Agya Kuasai 30 Persen Pangsa Pasar Compact Entry

“Penyebab paling dominan saat ini masih berasal dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, dan lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik,” kata Rizal kepada Jawapos.com, Senin (18/5/2026). 

Mengapa Rupiah Melemah? 

Rizal menjelaskan kenaikan harga energi turut memengaruhi kebutuhan impor Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, lonjakan harga minyak dunia meningkatkan permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor energi. 

Baca Juga: LPG 3 Kg Dijual di Atas HET, Satgas Palu Siapkan Sanksi hingga Pemutusan Usaha Bagi Pangkalan Nakal

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu kondisi domestik. Pasar disebut menyoroti kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal, kebutuhan pembiayaan utang, hingga arah kebijakan ekonomi nasional. 

“Jadi tekanan rupiah saat ini bukan hanya karena dolar kuat, tetapi juga karena premi risiko Indonesia ikut meningkat,” ujarnya. 

Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi melalui pasar spot, DNDF, dan stabilisasi pasar obligasi. Namun, Rizal menilai langkah moneter saja belum cukup menjaga stabilitas nilai tukar. 

Bank Indonesia dan Proyeksi Rupiah 

Menurut Rizal, pasar juga memperhatikan konsistensi fiskal dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor. Karena itu, koordinasi fiskal dan moneter dinilai penting agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. 

“Pasar saat ini juga melihat konsistensi fiskal, kredibilitas kebijakan, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor,” katanya. 

Rizal memperkirakan pergerakan rupiah masih cenderung volatil dalam jangka pendek. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.900 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan. 

Meski demikian, peluang penguatan rupiah tetap terbuka jika tensi geopolitik mereda dan arus modal asing kembali masuk. Stabilitas APBN dan kondisi makroekonomi nasional juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga nilai tukar.***

Editor : Muhammad Awaludin
#M Rizal Taufikurahman #dolar AS #ekonomi indonesia #rupiah melemah #bank indonesia