RADARPALU - Hannah Asa Indonesia menggelar Bootcamp Literasi Keuangan Batch 74 bagi penyandang disabilitas di Sulawesi Tengah sebagai upaya mendorong kemandirian finansial melalui edukasi pengelolaan dana darurat, investasi, dan akses layanan keuangan inklusif.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan kegiatan itu memiliki tiga tujuan utama.
Pertama, agar penyandang disabilitas memiliki kemampuan mengelola keuangan. Kedua, agar mereka dapat mengambil keputusan terkait keuangan tanpa tekanan dari pihak lain. Ketiga, agar mampu mengelola arus kas tanpa memberatkan orang lain.
Baca Juga: Warga Tahan 1 Ton Material dari Kawasan Tambang Ilegal di Desa Oyom Kabupaten Tolitoli
“Sehingga harapannya teman-teman disabilitas di Sulawesi Tengah ini bisa menjadi pribadi yang mandiri. Bukan hanya mandiri, tapi kita kepengen mereka bisa mulai menjalankan aksi investasi,” ujar Mardiyah kepada Radar Palu saat ditemui pada Sabtu (9/5/2026).
Ia menjelaskan, Bootcamp Batch 74 merupakan kegiatan edukasi literasi keuangan yang telah dilaksanakan sebanyak 74 kali oleh Hannah Asa Indonesia.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Bank Sulteng.
Baca Juga: Anwar Hafid Tegaskan Pejabat Bisa Diganti Enam Bulan, Evaluasi Fokus Data dan Digitalisasi
“Jadi, ini merupakan gotong royong yang dilaksanakan oleh kita bersama supaya Sulawesi Tengah bisa mulai melek keuangan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut hadir empat narasumber dari berbagai lembaga. Materi pertama dibawakan oleh Dr. Husnul selaku Head of Trainer Hannah Asa Indonesia. Materi kedua disampaikan oleh Imam dari tim edukasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulteng.
Selanjutnya, materi ketiga dibawakan langsung oleh Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia. Sementara materi keempat disampaikan oleh tim Bank Sulteng.
“Jadi, ada empat lembaga yang bekerja sama dan berkolaborasi. Di akhir kegiatan, kami juga membagikan paket sembako untuk teman-teman penyandang disabilitas,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulteng, Bony Hardi Putra menyampaikan bahwa pihaknya selalu mendukung kepada berbagai pihak dalam memberikan edukasi, pengalaman serta informasi terkait literasi keuangan dan memberikan penjelas terkait tugas dari OJK itu sendiri.
“Jadi, sebenarnya OJK tugasnya adalah menjaga stabilitas dari sistem keuangan. Prinsipnya sistem itu harus terbentuk, sehingga sistem itu harus stabil. Dan harapannya kami semua, supaya sistem keuangan Indonesia itu terus bertumbuh,” jelasnya.
Baca Juga: Penyerahan Santunan Jaminan Kematian secara Simbolis kepada Kepala Desa Maholo
Selain fungsi pengawasan dan pengaturan sektor jasa keuangan, kata dia, OJK juga memiliki mandat dalam perlindungan konsumen, termasuk bagi kelompok masyarakat rentan dan prioritas.
Menurutnya, OJK telah menerbitkan sejumlah regulasi terkait perlindungan konsumen dan masyarakat di sektor jasa keuangan, termasuk aturan pada tahun 2023 yang menegaskan pentingnya akses keuangan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Bony mengatakan, pelaku jasa keuangan seperti perbankan, asuransi, dan perusahaan pembiayaan memiliki tanggung jawab memberikan pelayanan yang ramah dan mudah diakses oleh penyandang disabilitas.
Baca Juga: Gubernur Anwar Hafid Lantik 10 Pejabat Eselon II Pemprov Sulteng, Ini Nama-Namanya
“Tidak boleh ada masyarakat yang tertinggal atau sulit mendapatkan akses layanan keuangan,” tegasnya.
Bony mengajak seluruh peserta memanfaatkan kegiatan edukasi tersebut untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan pribadi sebagai keterampilan penting dalam kehidupan.
“Mari jadikan literasi keuangan sebagai pintu gerbang menuju kemandirian. OJK berkomitmen mendampingi masyarakat agar semakin cerdas finansial dan setara dalam mengakses layanan keuangan,” tandasnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi