RADAR PALU – Perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh 8,32 persen secara year on year (yoy). Meski melambat dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 9,43 persen (yoy), capaian tersebut masih menempatkan Sulawesi Tengah sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga secara nasional.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, dalam kegiatan Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah (FRESH) dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi di Sriti Convention Hall, Kamis (7/5/2026).
Menurut Irfan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah masih ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 5,94 persen (yoy). Selain itu, sektor pertanian dan pertambangan juga menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca Juga: Kejagung Tiba di Palu Disambut Forkopimda, Bakal Sidak Sejumlah Tempat
“Lapangan usaha industri pengolahan menjadi penopang utama perekonomian Sulawesi Tengah dengan pangsa sebesar 43,43 persen, disusul sektor pertanian sebesar 16,19 persen dan pertambangan sebesar 14,17 persen,” ujarnya.
Meski tetap tumbuh tinggi, sektor industri pengolahan mengalami perlambatan akibat melemahnya permintaan global, insiden di kawasan industri, serta keterbatasan bahan baku.
Namun demikian, ekspansi kapasitas industri di sejumlah kawasan industri di Sulawesi Tengah masih menjadi faktor penahan perlambatan ekonomi.
Baca Juga: Wabah Hantavirus MV Hondius Picu Kepanikan, 3 Penumpang Tewas dan Kapal Ditolak Bersandar
Di sisi lain, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Sulawesi Tengah menunjukkan tren positif.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level optimis sebesar 170,78, meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar 161,33.
Peningkatan optimisme tersebut ditopang oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ekonomi ke depan.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 170,22, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 171,33.
“Optimisme konsumen menunjukkan daya beli masyarakat masih relatif terjaga dan aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak positif,” jelas Irfan.
Sementara itu, inflasi Sulawesi Tengah pada April 2026 tercatat sebesar 2,21 persen (yoy), menurun dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 2,83 persen (yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Baca Juga: Bupati dan Kapolres Kompak Sapu Bersih PETI, Satgas Tambang Parimo Kembali Bergerak
Penurunan inflasi terutama dipengaruhi melandainya kelompok administered prices dan volatile food. Inflasi inti juga relatif stabil di angka 2,26 persen (yoy), mencerminkan tekanan permintaan domestik yang masih terkendali.
Meski demikian, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai ke depan, di antaranya penurunan kuota penambangan bijih nikel, gangguan produksi industri hilir nikel pascainsiden kawasan industri, serta potensi terganggunya pasokan bahan baku akibat dinamika geopolitik global.
Selain itu, ancaman cuaca ekstrem dan potensi El Nino juga dinilai dapat memengaruhi sektor pertanian, perkebunan, hingga perikanan di Sulawesi Tengah.
Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Sulawesi Tengah sepanjang 2026 masih akan tumbuh tinggi pada kisaran 7,73 hingga 8,52 persen (yoy), dengan inflasi tetap terjaga dalam sasaran nasional.***
Editor : Muhammad Awaludin