Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Stabilitas Harga Pangan, BI Perkuat Program GPIPS, Fokuskan Komoditas Utama Penyumbang Inflasi

Rina Khalik • Kamis, 30 April 2026 | 14:10 WIB
Rapat Koordinasi Program Pembangunan Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten/Kota se Sulawesi Tengah Tahun 2028.(RINA ABD HALIK)
Rapat Koordinasi Program Pembangunan Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten/Kota se Sulawesi Tengah Tahun 2028.(RINA ABD HALIK)

RADARPALU – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah terus memperkuat upaya pengendalian inflasi melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Program ini difokuskan pada stabilisasi harga pangan, khususnya komoditas utama penyumbang inflasi di daerah.

Kepala Perwakilan BI Sulteng, Irfan Sukarna, menjelaskan bahwa GPIPS dilakukan melalui berbagai langkah strategis.

Baca Juga: OJK Perkuat Ketahanan Siber Industri Keuangan Digital Nasional

Di antaranya operasi pasar dan pasar murah di sejumlah kabupaten dan kota yang menjadi lokasi penghitungan inflasi, seperti Palu, Tolitoli, Luwuk, dan Morowali.

“Selain itu, kami juga mendorong peningkatan produktivitas tanaman melalui optimalisasi good agricultural practice,” ujar Irfan pada Kamis (30/4/2026).

Upaya tersebut dilakukan dalam bentuk dukungan sarana dan prasarana serta pelatihan kepada kelompok tani dengan melibatkan lembaga terkait yang memiliki kapasitas di bidang pertanian.

Baca Juga: Usai Dikudeta Borneo FC, Kemenangan Atas Bhayangkara Harga Mati Bagi Persib

BI juga mengoptimalkan kerja sama antar daerah, khususnya antara daerah produsen dan konsumen, guna menjaga ketersediaan pasokan pangan agar harga tetap stabil.

Di sisi lain, penguatan cadangan pangan dan ketahanan komoditas juga menjadi bagian penting dalam program ini.

Tak hanya itu, BI turut memfasilitasi distribusi pangan, termasuk subsidi transportasi dari daerah produsen ke daerah konsumen.

 

Langkah ini bertujuan menekan biaya distribusi sehingga harga di tingkat konsumen dapat lebih terkendali.

“Misalnya dari Sigi atau Parigi ke Palu sebagai daerah konsumen, kita bisa bantu fasilitasi distribusi agar harga tetap stabil,” jelasnya.

Program GPIPS juga diperkuat melalui koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak. Saat ini, BI Sulteng telah membina 25 kelompok tani yang tersebar di empat kabupaten, yakni Sigi, Parigi, Poso, dan Morowali.

Baca Juga: Sarifuddin Sudding Sorot Sabu 16 Kg Lolos di Bandara Palu, Desak Bandar Narkoba Ditembak di Tempat

Kelompok tani tersebut difokuskan pada produksi komoditas utama penyumbang inflasi, seperti beras, cabai, dan bawang merah.

BI memberikan dukungan sarana dan prasarana dengan syarat kelompok tani berkomitmen menyuplai kebutuhan pangan ke daerah konsumen saat dibutuhkan.

Dari hasil evaluasi, dukungan tersebut terbukti meningkatkan produktivitas. Produksi padi meningkat dari 5,5 ton menjadi 7 ton, bahkan ada yang naik dari 6 ton menjadi 9 ton. Sementara cabai meningkat dari 11 ton menjadi 16 ton, dan bawang merah dari 9 ton menjadi 11 ton.

Baca Juga: Kejati Sulteng Geledah Bapenda Donggala dan Tambang, Sita 32 Alat Berat Kasus Korupsi MBLB

Selain dukungan sarana, BI juga memberikan pendampingan kepada kelompok tani dengan menggandeng perguruan tinggi dan tenaga ahli guna meningkatkan kualitas produksi.

Melalui GPIPS, BI Sulteng berharap stabilitas harga pangan dapat terus terjaga dan tekanan inflasi di daerah dapat dikendalikan secara berkelanjutan.

“Ini bentuk timbal balik. Kami dukung sarana, dan mereka harus menjaga serta memastikan ketersediaan komoditas,” tandasnya.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#stabilasi harga pangan #Harga pangan #inflasi #Inflasi Daerah #bank indonesia