RADAR PALU — Upaya meningkatkan serapan tenaga kerja lokal di Sulawesi Tengah (Sulteng) dinilai membutuhkan strategi terintegrasi antara dunia usaha, pemerintah, dan lembaga pendidikan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulteng mendorong optimalisasi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sebagai instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Ketua DPP APINDO Sulteng, Wijaya Chandra, menegaskan bahwa peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal harus menjadi agenda prioritas daerah. Hal itu disampaikannya saat membuka Rapat Kerja dan Konsultasi Provinsi (Rakerkonprov) APINDO Sulteng 2026 di ruang pertemuan Milenium Gym Palu, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, keberadaan banyak perusahaan di Sulteng seharusnya dapat menjadi pengungkit peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal melalui program CSR yang terarah. Skema tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi dengan lembaga pelatihan kerja dan perguruan tinggi.
Baca Juga: Pemprov Sulteng dan APINDO Perkuat Kolaborasi untuk Majukan Ekosistem Usaha
“Ada banyak perusahaan di Sulteng, dan CSR bisa diarahkan untuk pelatihan tenaga kerja lokal melalui lembaga pendidikan maupun kolaborasi dengan perguruan tinggi,” ujarnya.
Wijaya Chandra menekankan, ketersediaan lapangan kerja harus diimbangi dengan kesiapan SDM yang sesuai kebutuhan industri. Tanpa tenaga kerja yang kompeten, peluang kerja yang ada berpotensi tidak terserap optimal oleh tenaga lokal.
“Kalau lapangan kerja tersedia tetapi tidak didukung SDM yang siap pakai, maka serapan tenaga kerja lokal tidak akan maksimal,” jelasnya.
Baca Juga: APINDO Sulteng Dorong Iklim Usaha Berdaya Saing Lewat Rakerkonprov 2026
Ia juga menyoroti pentingnya mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap tenaga kerja dari luar daerah dengan cara memperkuat kompetensi tenaga kerja lokal. Dengan SDM yang siap kerja, perusahaan dapat lebih memprioritaskan tenaga lokal dalam proses rekrutmen.
Lebih lanjut, ia berharap pemerintah daerah dapat mengambil peran aktif dalam mengorkestrasi kolaborasi antara perusahaan, lembaga pelatihan, dan institusi pendidikan tinggi. Program pelatihan berbasis kebutuhan industri dinilai mampu menghasilkan tenaga kerja yang tidak hanya siap diserap, tetapi juga memiliki peluang untuk berwirausaha secara mandiri.
“SDM yang terlatih tidak hanya bisa bekerja di perusahaan, tetapi juga berpotensi mengembangkan usaha sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah,” tambahnya.
Baca Juga: APINDO–KADIN Sampaikan Usulan Strategis RUU Ketenagakerjaan, Soroti Fleksibilitas dan Produktivitas
APINDO Sulteng, lanjut Wijaya, selama ini telah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Salah satu bentuk sinergi tersebut adalah keterlibatan praktisi bisnis dalam kegiatan akademik seperti kuliah umum, guna memberikan wawasan dan motivasi kewirausahaan bagi generasi muda.
“APINDO terus mendorong kolaborasi lintas sektor agar peningkatan SDM lokal dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya. (ron)
Editor : Rony Sandhi