RADAR PALU- – Angka-angka ini bikin gelisah. Utang negara tembus ribuan triliun, rupiah melemah, dan harga energi melonjak. Sinyal bahaya ekonomi mulai terasa.
Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, blak-blakan membeberkan kondisi ekonomi Indonesia lewat akun Instagram pribadinya. Ia menegaskan, yang disampaikan bukan opini, tapi data.
“Total utang kita sudah mencapai Rp9.638 triliun,” ujar Politisi PDI Perjuangan ini.
Baca Juga: Menangis! Ketua DPRD Magetan Jadi Tersangka Korupsi Hibah
Tak hanya itu, beban yang harus dibayar tahun ini juga tak kecil. Utang jatuh tempo mencapai Rp833 triliun. Sementara bunga utang menyentuh Rp599 triliun.
Artinya, hampir Rp600 triliun hanya habis untuk bayar bunga. Belum bicara pembangunan baru.
Tekanan juga terlihat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam tiga bulan pertama 2026, defisit terus melebar.
Baca Juga: Dramatis! Video Iran Sita Kapal di Hormuz, Diduga Beroperasi Tanpa Izin
Januari tercatat Rp54 triliun. Februari naik menjadi Rp135 triliun. Maret bahkan tembus Rp240 triliun.
“Baru tiga bulan, defisit sudah ratusan triliun,” kata Darmadi.
Yang lebih mengkhawatirkan, cadangan anggaran disebut tinggal Rp120 triliun. Ruang fiskal pun dinilai makin sempit.
Di pasar keuangan, kondisi tak kalah bergejolak. IHSG sempat berada di level 9.100 pada Januari. Namun kini merosot ke kisaran 7.400.
Nilai tukar rupiah juga tak sesuai asumsi pemerintah. Dalam APBN dipatok Rp16.500 per dolar AS. Namun realitanya sudah menembus Rp17.300.
“Artinya rupiah kita melemah,” tegasnya.
Tekanan makin terasa dari sisi energi. Harga minyak dunia yang diasumsikan US$70 per barel kini melonjak di atas US$100.
Baca Juga: Dean James Main 16 Menit, Go Ahead Eagles Ditahan AZ Tanpa Gol
Dampaknya langsung ke masyarakat. Harga LPG naik. BBM non-subsidi ikut terkerek. Produk seperti Dexlite, Pertamina Dex, hingga Pertamax Turbo mengalami kenaikan.
Kondisi ini, kata Darmadi, bukan sekadar deretan angka.
Ia menilai kombinasi utang besar, defisit melebar, rupiah melemah, dan harga energi naik adalah sinyal kuat adanya tekanan ekonomi.
“Biasanya beban itu turun ke masyarakat,” ujarnya.
Efeknya jelas. Harga barang naik, biaya hidup meningkat, dan daya beli tertekan. Jika dibiarkan, perlambatan ekonomi bisa terjadi.
Menurutnya, situasi ini membutuhkan langkah cepat sekaligus tepat dari pemerintah.
Karena jika arah kebijakan meleset, dampaknya bukan hanya angka di laporan keuangan negara. Tapi langsung ke kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Yang dikorbankan bukan angka, tapi rakyat,” tandasnya.***.
Editor : Muhammad Awaludin