RADARPALU – Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto, melakukan kunjungan kerja di Sulawesi Tengah dalam rangka mendorong penyerapan gabah dan beras selama masa puncak panen April hingga Mei.
Prihasto menyampaikan bahwa periode April dan Mei merupakan masa puncak panen di Sulawesi Tengah, sehingga seharusnya penyerapan gabah dan beras oleh Bulog dapat dilakukan secara maksimal. Namun, dirinya melihat bahwa penyerapan di Sulawesi Tengah masih relatif kecil.
“Dan saya minta semua pihak dalam hal ini bekerja sama dengan pemerintah daerah, dengan TNI, Polri, dan penyuluh. Bagaimana agar upaya-upaya untuk penyerapan gabah maupun beras untuk cadangan pangan pemerintah ini bisa dilakukan secara maksimal untuk Provinsi Sulawesi Tengah,” ujar Prihasto Setyanto saat ditemui pada Rabu (25/4/2026).
Baca Juga: Bupati Buol Risharyudi Triwibowo Hadiri Peringatan HUT Provinsi Sulteng ke 62
Ia mengungkapkan, target penyerapan di Sulawesi Tengah berada di kisaran 11.300 ton. Namun hingga data terakhir yang diterima, realisasi baru mencapai sekitar 22 persen. Selain itu, ia menyebutkan bahwa target harian penyerapan beras di Sulteng mencapai 55 ton per hari.
“Kemarin saya hadir di sini mengalami kenaikan menjadi 133 ton. Naik dari targetnya 55 ton per hari, sekarang jadi 133 ton,” katanya.
Dirinya berharap bahwa hal tersebut tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah tetapi juga diseluruh provinsi.
Baca Juga: Pansus DPRD Palu Bedah Kinerja Pajak Daerah, OPD Diminta Buka Masalah
Secara nasional, lanjutnya, target penyerapan mencapai 4 juta ton. Hingga saat ini, realisasinya baru menyentuh angka sekitar 2 juta ton atau 50 persen. Dibandingkan capaian nasional tersebut, Sulawesi Tengah dinilai masih tertinggal.
“Nasional sudah 50 persen, sementara Sulawesi Tengah baru 22 persen yang tercapai. Ini yang harus kita dorong bersama,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa upaya peningkatan penyerapan tidak bisa hanya dilakukan oleh Bulog semata, melainkan membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga penyuluh pertanian.
“Ini tugas bersama. Bulog punya keterbatasan sumber daya manusia, jadi perlu dukungan semua pihak,” ujarnya.
Prihasto juga menyoroti kebiasaan petani di Sulawesi Tengah yang cenderung menjual hasil panen dalam bentuk beras.
Menurutnya, dari sisi ekonomi, penjualan dalam bentuk gabah justru lebih menguntungkan bagi petani, mengacu pada harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500.
Baca Juga: Kuota Terbatas dan Sistem Bermasalah, Program Halal Gratis di Palu Tersendat
“sebetulnya itu jauh lebih menguntungkan dibanding petani itu menjualnya dalam bentuk beras. Walaupun pemerintah tetap siap membeli dalam bentuk beras, nggak ada masalah,” ujarnya.
Ia mendorong agar dilakukan sosialisasi secara intensif kepada petani untuk mengubah pola tersebut.
Strategi yang dilakukan antara lain melalui pendekatan kepada mitra pengolahan RMU yang memiliki jaringan langsung dengan petani.
Baca Juga: Tak Punya Alat Standar, Siswa Palu Tetap Juara Senam
“Langkah pertama adalah meyakinkan mitra-mitra Bulog. Kalau mitranya sudah yakin, mereka juga bisa menyampaikan ke para mitra-mitra petaninya di bawah. Tapi ini memang perlu waktu ya,” katanya.
Dalam kunjungannya ke beberapa lokasi yang ada di Sulteng, Prihasto mengungkapkan bahwa mutu dari beras yang dihasilkan cukup bagus sehingga hal tersebut merupakan potensi yang luar biasa.
Hingga dia berharap bahwa sosialisasi yang di lakukan kepada petani dalam menjual gabah ke Bulog lebih masif lagi, karena akan lebih menguntungkan bagi para petani.
“Saya lihat di Parigi Motong, saya datang ke salah satu penggilingan , saya lihat sendiri bagus berasnya. Ke Donggala, saya lihat bagus juga berasnya,” ungkapnya. (rna)
Editor : Mugni Supardi