Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Harga BBM Bakal Naik? Warga Mulai Kurangi Pengeluaran

Muhammad Awaludin • Jumat, 27 Maret 2026 | 17:58 WIB

Warga mengisi BBM di SPBU
Warga mengisi BBM di SPBU

RADAR PALU - Isu kenaikan harga BBM mulai memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah dinilai berpotensi berdampak langsung pada biaya hidup.

Sejumlah warga mengaku mulai cemas jika harga BBM benar-benar naik. Kenaikan tersebut dikhawatirkan akan memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. 

 

“Kalau BBM naik, pasti semua ikut naik. Belanja harian saja sudah terasa berat,” ujar salah satu warga di Palu, Jumat (27/3). 

Kondisi ini membuat sebagian masyarakat mulai menekan pengeluaran dan mengatur ulang anggaran rumah tangga.

Kenaikan harga BBM tidak lepas dari lonjakan harga minyak dunia. Konflik di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan jalur distribusi, menjadi pemicu utama.

Situasi global ini membuat banyak negara bersiap menghadapi tekanan energi, termasuk Indonesia.

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Hendry Cahyono, sebelumnya menyebut kenaikan harga BBM bisa berdampak luas terhadap ekonomi.

Menurutnya, kenaikan tanpa diimbangi bantuan sosial berisiko menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi.

“Kenaikan harga tanpa kompensasi dapat menyebabkan stagflasi karena pendapatan tidak meningkat tetapi harga naik,” ujarnya. 

Di tengah kekhawatiran masyarakat, pemerintah diharapkan menyiapkan langkah antisipasi. Salah satunya melalui subsidi tepat sasaran atau bantuan sosial bagi kelompok rentan.

Langkah ini dinilai penting agar dampak kenaikan harga BBM tidak semakin membebani masyarakat.

Ketidakpastian harga BBM membuat masyarakat mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Kepastian kebijakan pemerintah kini menjadi hal yang paling dinantikan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#ekonomi masyarakat #inflasi Indonesia #harga bbm #konflik timur tengah #Radar Palu #minyak dunia