Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

OJK Pastikan Fundamental Industri Perbankan Tetap Solid

Rina Khalik • Rabu, 25 Maret 2026 | 20:39 WIB

ilustrasi
ilustrasi

RADAR PALU – Otoritas Jasa Keuangan memastikan fundamental industri perbankan nasional tetap berada dalam kondisi solid dengan pertumbuhan yang positif.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan kinerja industri perbankan hingga saat ini masih menunjukkan kondisi yang kuat.

Terkait revisi outlook negatif terhadap bank-bank besar di Indonesia, termasuk Himpunan Bank Milik Negara, oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings, menurutnya hal tersebut bukan disebabkan oleh faktor fundamental kinerja perbankan.

“Revisi outlook lebih dipicu perubahan outlook peringkat kredit sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif yang turut memengaruhi persepsi risiko terhadap sektor perbankan nasional serta faktor eksternal dinamika makroekonomi global,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara umum peringkat lembaga atau perusahaan dalam suatu negara setara atau lebih rendah dibandingkan peringkat sovereign negara tersebut.

Dian menyebutkan, kondisi industri perbankan nasional tetap positif, tercermin dari pertumbuhan kredit pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen (year on year/yoy), sejalan dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13,48 persen (yoy).

Selain itu, kualitas kredit juga terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,14 persen. Permodalan perbankan tercatat kuat dengan rasio 25,87 persen, serta likuiditas yang dinilai ample dengan rasio AL/NCD sebesar 121,23 persen, AL/DPK 27,54 persen, dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) 197,92 persen, atau berada jauh di atas ambang batas.

Dari sisi fundamental, kinerja bank-bank besar di Indonesia dan Himbara berada pada level yang kuat dengan rasio permodalan dan likuiditas yang memadai untuk mengantisipasi berbagai potensi risiko.

Pertumbuhan kredit pada kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 dan Himbara tercatat masing-masing sebesar 13,34 persen dan 13,43 persen. Sementara dari sisi pendanaan, pertumbuhan DPK pada KBMI 4 dan Himbara masing-masing mencapai 16,32 persen dan 16,38 persen.

“Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat tetap kuat dan kondisi likuiditas berada pada level yang sangat terjaga,” jelasnya.

 

Ketahanan permodalan juga dinilai sangat kuat, dengan rasio CAR Himbara pada Januari 2026 sebesar 20,32 persen dan KBMI 4 sebesar 22,33 persen.

Dari aspek kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada pada kisaran kurang dari 1 persen hingga 3 persen, dengan Loan at Risk (LaR) yang tetap terkendali serta didukung pembentukan cadangan yang memadai.

Sepanjang 2025, bank KBMI 4 dan Himbara juga membukukan laba yang baik, mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan, efisiensi, kualitas aset, dan penguatan manajemen risiko.

Di tengah ketidakpastian global, Himbara dinilai tetap menunjukkan kinerja intermediasi yang stabil serta berperan strategis dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan program prioritas pemerintah.

OJK, lanjut Dian, terus melakukan pengawasan secara berkelanjutan untuk memastikan bank tetap menjalankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta manajemen risiko yang memadai.

Ia menegaskan, penyesuaian outlook oleh lembaga pemeringkat tidak secara langsung memengaruhi kemampuan bank dalam mengakses sumber pendanaan. Saat ini, peringkat kredit bank KBMI 4 dan Himbara masih berada pada level investment grade dan didukung fundamental yang kuat.

Struktur pendanaan perbankan nasional juga masih didominasi dana pihak ketiga domestik, sehingga ketergantungan terhadap pendanaan eksternal relatif terbatas.

“OJK menghormati metodologi dan pandangan setiap lembaga pemeringkat internasional serta memandang penyesuaian outlook ini bersifat sementara dan berpotensi kembali berubah seiring membaiknya prospek perekonomian global dan domestik,” ujarnya.

Ke depan, outlook peringkat kredit dinilai berpeluang kembali ke posisi stabil maupun positif seiring penguatan fundamental ekonomi, khususnya indikator fiskal dan eksternal.

“OJK bersama pemangku kepentingan, terutama Komite Stabilitas Sistem Keuangan, akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui koordinasi kebijakan dan penguatan pengawasan,” pungkasnya.(*/rna)

Editor : Mugni Supardi
#outlook perbankan Indonesia #kinerja bank 2026 #Moody s Fitch Indonesia #OJK perbankan Indonesia #kredit perbankan tumbuh