RADAR PALU – Deretan kerajinan kayu hitam tersusun rapi di sebuah toko sederhana di Kota Palu. Warnanya gelap mengilap, seratnya khas. Namun di balik keindahannya, tersimpan cerita tentang kejayaan yang kini kian meredup.
Kayu hitam atau ebony pernah menjadi identitas kerajinan Sulawesi Tengah. Produk ukiran hingga cenderamata khas Palu dulu banyak diburu wisatawan sebagai oleh-oleh. Kini, geliat itu tak lagi seramai dulu.
Sulastini, pemilik usaha Sumber Urip Ebony, menjadi satu dari sedikit perajin yang masih bertahan. Ia menekuni usaha tersebut sejak 1997, mengikuti sang suami yang lebih dulu berkecimpung di kerajinan kayu hitam.
“Mulainya dari tahun 1997, saya ikut suami yang sebelumnya memang bekerja di usaha kerajinan kayu hitam,” ujar Sulastini saat ditemui, Senin (2/3/2026).
Usahanya sempat memiliki dua gerai, masing-masing di Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Dewi Sartika. Namun kini hanya satu yang bertahan.
“Toko di Dewi Sartika masih ada, tapi sudah tutup karena tidak ada yang jaga,” katanya.
Sulastini mengenang masa ketika menjelang hari raya, tokonya nyaris tak pernah sepi pembeli. Kayu hitam menjadi simbol kebanggaan sekaligus cenderamata khas Palu.
“Dulu kalau mau Lebaran, ramai sekali. Biasanya orang beli untuk oleh-oleh pulang kampung,” kenangnya.
Namun perubahan zaman membawa tantangan besar. Permintaan menurun, selera pasar bergeser, hingga dampak gempa bumi yang melanda Palu membuat usaha kecil seperti miliknya terpukul.
“Dulu memang bagus prospeknya, tapi semenjak gempa itu sangat terasa merosotnya,” ujarnya.
Dalam dua tahun terakhir, kondisi semakin sulit. Pesanan yang datang kini didominasi kebutuhan papan nama instansi, bukan lagi kerajinan ukiran bernilai seni tinggi.
“Sekarang pesanan kami paling sering papan nama saja,” katanya.
Meski menghadapi tantangan, Sulastini tetap bertahan. Ia berharap kerajinan kayu hitam kembali mendapat perhatian masyarakat dan wisatawan sebagai bagian dari identitas daerah.
“Semoga perekonomian membaik dan masyarakat kembali menengok oleh-oleh khas Sulawesi ini supaya bisa hidup seperti dulu,” tutupnya.
Kayu hitam bukan sekadar komoditas, melainkan warisan budaya yang pernah menjadi denyut ekonomi masyarakat Palu.***
Editor : Muhammad Awaludin