Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Irigasi Jauh 2 Km, Dinas TPH Siapkan Solusi Pompanisasi untuk Sawah Tada

Rina Khalik • Jumat, 13 Februari 2026 | 19:22 WIB
Kepala Dinas TPH Sulteng, Dodot Tinarso.
Kepala Dinas TPH Sulteng, Dodot Tinarso.

RADAR PALU - Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulawesi Tengah bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan gagal panen di Desa Tada, Parigi Moutong.

Hasil verifikasi di lapangan memastikan kondisi tersebut bukan gagal panen massal, melainkan persoalan irigasi yang berjarak sekitar dua kilometer dari areal sawah.

Kepala Dinas TPH Sulteng, Dodot Tinarso, menyampaikan bahwa setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan oleh bidang teknis.

“Jadi ada beberapa informasi kemarin seperti di Tada Parigi Moutong. Pimpinan, Wagub dan Ibu Sekprov sampaikan ke OPD terkait, ketika aduan yang menyangkut teknis di lapangan sesegera mungkin itu segera beri jawaban klarifikasi atau tanggapan,” ujar Dodot Tinarso saat ditemui beberapa waktu lalu.

Olehnya itu, ketika laporan yang masuk dari wilayah Tada misalnya diterima, pihaknya langsung meneruskan kepada operator dan bidang tanaman pangan serta bidang Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) untuk melakukan peninjauan langsung di lapangan guna memastikan kebenaran laporan tersebut.

“Apakah betul laporan yang disampaikan di lapangan, artinya laporan orang. Ternyata kebanyakan dari laporan yang disampaikan tidak seperti yang dilaporkan,” jelasnya.

Dia mengakui, laporan yang masuk sebelumnya menyebutkan terjadi gagal panen di Tada. Namun setelah dilakukan pengecekan, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya demikian.

Karena menurutnya, kondisi di desa Tada terkait gagal panen ternyata memang irigasinya berjarak kurang lebih 2 kilometer

"Memang dia sawah tadah hujan. Apalagi cuaca akhir-akhir ini kan beberapa kabupaten memang kering,” terangnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan UPT Proteksi untuk mencari solusi atas kondisi tersebut, terutama terkait jarak irigasi yang mencapai kurang lebih dua kilometer.

 

“Kira-kira apa solusinya terkait jarak irigasinya itu," singkatnya.

Dodot juga menjelaskan pihaknya juga sempat melakukan rapat dengan OPD teknis di Parimo. Saat itu Dinas TPH memberikan masukan kalau memang ada sumber airnya di sekitar bisa dimanfaatkan dengan pola pompanisasi.

"Atau tidak kalau wilayahnya itu di bawah dan memang ada sumber air yang dekat mungkin bisa pakai pipanisasi dan seterusnya,” paparnya.

Dia juga menegaskan, laporan gagal panen hanya terjadi di sekitar lima hektare lahan dan bukan keseluruhan wilayah.

“Karena memang kondisinya sawah tadah hujan. Berdasarkan konfirmasi teman-teman langsung ke lapangan itu tidak langsung gagal panen,” tegasnya.

Dia mengakui, Dinas TPH Sulteng terus bersinergi dalam setiap rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Dalam rapat itu, pimpinan daerah turut mengundang BMKG dan Bulog untuk memetakan potensi cuaca ekstrem di masing-masing kabupaten.

“Mana kabupaten yang kemungkinan akan terjadi cuaca ekstrem baik kekeringan maupun curah hujan tinggi, makanya kita langsung tindak lanjuti dengan memberikan imbauan kepada teman-teman di kabupaten,” pungkasnya.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#Dinas TPH Sulteng #Gagal Panen Tada Parimo #Pipanisasi irigasi #kekeringan parigi moutong #Sawah tadah hujan Tada #cuaca ekstrem Sulteng #Lahan terdampak 5 hektare #Dodot Tinarso #Pompanisasi pertanian #Irigasi 2 kilometer