Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terjun bebas ke level 7.654 pada pukul 09.30 WIB. Otoritas bursa pun langsung memberlakukan trading halt guna meredam volatilitas pasar.
Sehari sebelumnya, IHSG juga sempat disuspensi setelah anjlok 7,35% ke posisi 8.320. Tekanan jual kala itu diperparah oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp6,17 triliun.
Tekanan hebat di pasar saham tak lepas dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memberlakukan interim freeze terhadap saham-saham Indonesia. MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham, serta menunda penambahan saham Indonesia ke dalam indeks global hingga isu transparansi kepemilikan saham dinyatakan tuntas oleh regulator.
Sentimen negatif semakin memburuk setelah Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight. Bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan arus keluar dana pasif bisa mencapai USD 13 miliar jika Indonesia diturunkan statusnya dari pasar negara berkembang menjadi pasar frontier.
Di tengah tekanan tajam di pasar saham, harga emas justru tampil berkilau. Emas mencatat reli bersejarah dengan harga spot dunia menembus USD 5.500 per ons untuk pertama kalinya, melonjak lebih dari 3% hanya dalam satu sesi perdagangan.
Baca Juga: DPRD Sulteng Hadiri Penyerahan LHP dari BPK Perwakilan Sulteng
Sepanjang 2026, harga emas telah melesat lebih dari 25%, setelah pada tahun sebelumnya melonjak hingga 64%.
Di pasar domestik, harga emas batangan Antam melompat Rp165.000 menjadi Rp3.168.000 per gram, melanjutkan rekor setelah sehari sebelumnya menembus level Rp3 juta per gram. Sementara itu, harga emas 1 gram di Pegadaian tercatat mencapai Rp3.304.000.
Lonjakan harga emas didorong sejumlah faktor global. Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% dalam rapat FOMC yang berakhir Rabu waktu Amerika Serikat. Ketua The Fed Jerome Powell menyebut inflasi masih berada “agak tinggi” di atas target 2%.
Baca Juga: DPRD Sulteng Hadiri Penyerahan LHP dari BPK Perwakilan Sulteng
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk desakan Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait isu nuklir, serta pelemahan dolar AS yang jatuh ke level terendah sejak awal 2022, turut mendorong emas semakin diminati sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Editor : Agung Sumandjaya