Kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab. Berbagai faktor global, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga konflik geopolitik, menjadi pemicu utama meningkatnya minat masyarakat terhadap logam mulia tersebut.
Deputy Bisnis PT Pegadaian Kantor Area Palu, Putra Aspin Rahmatullah, menjelaskan bahwa salah satu faktor dominan yang mendorong kenaikan harga emas adalah tingginya permintaan (demand).
Menurutnya, emas kini semakin diminati sebagai instrumen investasi yang relatif stabil dan aman.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, emas masih menjadi pilihan utama masyarakat dan investor dunia untuk menjaga nilai kekayaan,” ujar Aspin, saat memberikan Literasi Investasi Aman kepada karyawan Harian Radar Palu Jawa Pos Group, Senin (19/1/2025).
Ia menambahkan, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga hampir di seluruh dunia. Emas dinilai mampu mempertahankan nilai dalam jangka panjang, bahkan saat ekonomi global mengalami tekanan.
Aspin menyebutkan, faktor ekonomi, politik, hingga psikologis ikut berperan dalam mendorong kenaikan harga emas. Ketika dunia dihadapkan pada ancaman krisis ekonomi, resesi, maupun konflik geopolitik, investor cenderung mengalihkan asetnya dari instrumen berisiko ke emas.
“Ketika kondisi global tidak menentu, investor mencari aset aman. Emas sudah terbukti ratusan tahun menjadi penyimpan nilai yang bisa diandalkan,” jelasnya.
Selain faktor ekonomi, konflik geopolitik juga kerap memicu lonjakan harga emas. Perang antarnegara, ketegangan politik global, hingga perang dagang menyebabkan pasar keuangan bergejolak. Dalam kondisi tersebut, emas kembali menjadi primadona.
Sejarah mencatat, setiap terjadi ketegangan geopolitik besar seperti konflik di Timur Tengah atau rivalitas negara adidaya harga emas cenderung melonjak signifikan. Hal ini dipicu oleh sikap investor yang menghindari risiko dan memilih aset yang lebih aman.
Tak kalah penting, faktor psikologis juga memengaruhi pergerakan harga emas. Ketakutan akan krisis, kebangkrutan perusahaan besar, atau rumor negatif di pasar keuangan sering kali mendorong aksi beli emas secara masif. Sentimen ini dapat menciptakan lonjakan harga, terutama dalam jangka pendek.
“Kenaikan harga emas bukan fenomena kebetulan. Ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari inflasi, nilai tukar, hingga kondisi geopolitik global,” ujar Aspin.
Dengan berbagai faktor tersebut, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati hingga saat ini. Bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi emas, pemahaman terhadap faktor-faktor pendorong kenaikan harga menjadi penting agar dapat menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual. Yang pasti, emas tetap menjadi pilihan investasi jangka panjang yang terbukti mampu menjaga nilai kekayaan dari generasi ke generasi. (agg)
Editor : Agung Sumandjaya