RADAR PALU - Realisasi investasi Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga 31 Desember 2025 tercatat mencapai Rp127,2 triliun.
Capaian tersebut menempatkan Sulteng di peringkat kelima nasional dan menjadi provinsi dengan realisasi investasi tertinggi di luar Pulau Jawa, berdasarkan data yang dirilis Kementerian Investasi/BKPM Republik Indonesia.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulteng, Moh. Rifani Pakamundi, S.Sos., M.Si, mengatakan sektor industri logam dasar masih menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi di Sulteng. Sektor ini disusul oleh industri kimia, listrik, gas dan air, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran.
“Secara nasional, realisasi investasi tertinggi masih ditempati Jawa Barat, kemudian DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Tengah. Kita masuk lima besar nasional dan nomor satu di luar Pulau Jawa,” ujar Rifani kepada Radar Palu Jawa Pos Group saat ditemui pada Senin (19/1/2026).
Namun demikian, Rifani mengakui realisasi investasi Sulteng tahun 2025 belum mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp162,9 triliun. Tidak tercapainya target tersebut dipengaruhi sejumlah faktor global dan kebijakan nasional.
“Faktor utama adalah turunnya harga komoditas nikel dunia akibat kondisi oversupply. Hal ini membuat investor menunda ekspansi karena margin keuntungan yang semakin tipis,” jelasnya.
Selain itu, kebijakan moratorium smelter baru melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 juga berdampak signifikan. Aturan tersebut menghentikan sementara pembangunan smelter dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), khususnya untuk proyek nikel tahap dua seperti nickel pig iron dan feronikel.
Ia menambahkan, persoalan internal daerah juga turut memengaruhi realisasi investasi, mulai dari sengketa lahan, rendahnya kepatuhan pelaporan LKPM, hingga isu kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang. Di sisi lain, kelangkaan bahan baku ore nikel akibat pengetatan RKAB turut menekan kinerja investasi.
Meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, Rifani menyebut realisasi investasi Sulteng masih relatif stabil. “Penurunan ini murni karena kondisi global dan regulasi, bukan karena lemahnya daya tarik investasi daerah,” tegasnya.
Di balik belum tercapainya target, Sulteng justru mencatat prestasi gemilang di sektor hilirisasi. Sepanjang 2025, nilai investasi hilirisasi di Sulteng mencapai Rp110 triliun, menjadikannya peringkat pertama nasional, mengungguli Jawa Barat dan Maluku.
“Ini membuktikan bahwa Sulawesi Tengah sudah bertransformasi dari daerah tambang menjadi daerah industri. Tanpa tambang pun, kita masih bisa hidup dan bertahan dari kekuatan industri,” ujarnya.
Di bidang pelayanan, DPMPTSP Sulteng saat ini tengah menyiapkan platform layanan berbasis web dan kecerdasan buatan (AI) untuk memudahkan masyarakat dan investor dalam menentukan peluang usaha.
“Aplikasi ini akan membantu masyarakat, termasuk anak muda, agar memahami seperti apa itu investasi. Mau usaha apa, modal berapa, semua bisa dikonsultasikan secara digital. Insya Allah diluncurkan paling lambat Maret,” pungkasnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi