Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

OJK Sulteng Pastikan Sektor Keuangan Tetap Solid di Tengah Perlambatan Ekonomi Dunia

Rina Khalik • Senin, 12 Januari 2026 | 08:55 WIB
Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra.
Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra.

RADAR PALU - Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diselenggarakan pada 24 Desember 2025 menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh tantangan.

Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra mengatakan bahwa secara global, rilis data perekonomian menunjukkan perbaikan meskipun kinerja ekonomi Tiongkok masih berada di bawah ekspektasi.

Aktivitas manufaktur dunia masih berada di zona ekspansi, namun dengan laju yang lebih moderat seiring menurunnya kepercayaan konsumen global. 

“Untuk tahun 2026, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan terus melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi, dipengaruhi meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama,”ujar Bonny pada Sabtu (10/1/2026).

Di Amerika Serikat, perekonomian tercatat relatif solid. Produk Domestik Bruto kuartal III 2025 tumbuh sebesar 4,3 persen secara tahunan yang disesuaikan, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta peningkatan investasi yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan.

Namun demikian, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan moderasi, seiring inflasi November 2025 yang turun menjadi 2,7 persen dan inflasi inti sebesar 2,6 persen.

Sementara itu, perlambatan ekonomi Tiongkok masih berlanjut. Konsumsi rumah tangga tercatat masih tertahan, PMI manufaktur kembali masuk zona kontraksi, serta tekanan di sektor properti belum mereda.

Perkembangan tersebut mendorong sejumlah bank sentral kembali mengambil kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

The Federal Reserve memangkas Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, disusul Bank of England yang juga menurunkan suku bunga acuannya menjadi 3,75 persen.

Sebaliknya, Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir akibat tekanan inflasi yang masih persisten.

Perbedaan arah kebijakan moneter tersebut memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham dunia secara umum menguat merespons penurunan suku bunga di Amerika Serikat, meskipun kekhawatiran terhadap potensi gelembung saham teknologi masih membayangi.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar obligasi global seiring berakhirnya praktik carry trade.

Pada awal 2026, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas pasar keuangan global.

Di tengah dinamika global tersebut, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat. Sektor manufaktur tetap berada dalam fase ekspansi, sementara kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus.

Sejalan dengan kondisi tersebut, pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 8.646,94 pada 31 Desember 2025, menguat 1,62 persen secara bulanan dan 22,13 persen secara tahunan.

Sepanjang 2025, IHSG mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa sebanyak 24 kali, dengan level tertinggi di angka 8.710,70 pada 8 Desember 2025 dan kapitalisasi pasar saham mencapai Rp16.005 triliun.

Likuiditas pasar saham juga meningkat signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian saham pada Desember 2025 mencapai rekor tertinggi sebesar Rp27,19 triliun.

Sepanjang tahun 2025, rata-rata nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp18,07 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh peran aktif investor ritel domestik yang proporsi transaksinya meningkat menjadi 50 persen.

Dari sisi investor asing, pada Desember 2025 tercatat net buy saham sebesar Rp12,24 triliun secara bulanan, melanjutkan tren positif sejak bulan sebelumnya. Namun secara akumulatif sepanjang 2025, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp17,34 triliun.

Pasar obligasi nasional juga menunjukkan penguatan. Indeks Komposit Obligasi Indonesia (ICBI) pada Desember 2025 meningkat 1,08 persen secara bulanan dan 12,27 persen secara tahunan.

Yield Surat Berharga Negara tercatat turun baik secara bulanan maupun tahunan. Investor nonresiden membukukan net buy di pasar SBN sebesar Rp6,49 triliun pada Desember 2025.

 

Di industri pengelolaan investasi, total Asset Under Management mencapai Rp1.033,81 triliun pada akhir Desember 2025. Nilai Aktiva Bersih reksa dana tercatat sebesar Rp675,32 triliun, tumbuh signifikan secara bulanan maupun tahunan, didukung oleh net subscription investor yang kuat.

Jumlah investor pasar modal domestik terus meningkat. Pada Desember 2025 tercatat penambahan 694 ribu investor baru, sehingga secara tahunan jumlah investor meningkat menjadi 20,36 juta.

Penghimpunan dana di pasar modal juga mencatatkan capaian positif. Sepanjang 2025, total nilai penawaran umum mencapai Rp274,80 triliun dan melampaui target yang ditetapkan. Sementara itu, penghimpunan dana melalui securities crowdfunding terus bertumbuh dengan total dana terhimpun mencapai Rp1,82 triliun.

Di pasar derivatif keuangan, volume transaksi sepanjang 2025 tercatat lebih dari 1 juta lot dengan frekuensi transaksi mencapai 4,43 juta kali.

Di Bursa Karbon Indonesia, hingga akhir Desember 2025 tercatat volume transaksi sebesar 1,81 juta ton setara karbon dengan nilai transaksi Rp87 miliar.

Dalam rangka penegakan ketentuan di bidang pasar modal, derivatif keuangan, dan bursa karbon, OJK sepanjang 2025 telah mengenakan berbagai sanksi administratif berupa denda, peringatan tertulis, pencabutan izin, serta perintah tertulis kepada ratusan pihak yang terbukti melanggar ketentuan perundang-undangan.(*/rna)

Editor : Mugni Supardi
#ekonomi nasional #OJK #investasi #OJK Sulawesi Tengah #OJK Sulteng #IHSG #obligasi #Bonny Hardi Putra #Pasar Modal