RADAR PALU – Menjamurnya coffee shop di Kota Palu tak hanya mengubah wajah gaya hidup masyarakat, tetapi juga memberi dampak nyata terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Di balik aroma kopi yang kian akrab di sudut-sudut kota, tersimpan kontribusi fiskal yang signifikan bagi kas daerah.
Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Palu, Syarifudin, mengungkapkan bahwa jumlah coffee shop di Palu menjadi yang terbanyak di Sulawesi Tengah, melampaui kabupaten dan kota lain di wilayah tersebut.
“Coffee shop di Kota Palu itu paling besar dan paling menjamur dibandingkan daerah lain di Sulawesi Tengah. Ini berdasarkan data terbaru per 31 Desember 2025,” kata Syarifudin kepada Radar Palu, Selasa (6/1/2026).
Syarifudin menjelaskan, seluruh aktivitas usaha coffee shop masuk dalam kategori Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) makanan dan minuman. Dari sektor inilah, kontribusi pajak coffee shop Palu menunjukkan angka yang mencolok.
Sepanjang tahun 2025, tercatat 208 coffee shop beroperasi di Kota Palu. Dari jumlah tersebut, total pajak yang berhasil dihimpun mencapai Rp11.057.362.935.
“Kalau khusus coffee shop, pajaknya mencapai Rp11 miliar lebih. Secara persentase, ini menempati urutan kedua penyumbang PBJT setelah restoran,” ungkapnya.
Angka tersebut sekaligus menempatkan sektor coffee shop sebagai penyumbang pajak terbesar di antara kabupaten/kota lain di Sulawesi Tengah.
Fenomena menjamurnya coffee shop, menurut Syarifudin, bukan sekadar tren nongkrong atau gaya hidup masyarakat urban. Di balik itu, terdapat perputaran ekonomi yang besar, mulai dari penyerapan tenaga kerja, rantai pasok bahan baku, hingga kontribusi pajak.
Ia optimistis, kontribusi sektor ini akan terus meningkat pada tahun 2026, seiring dengan penataan Kota Palu yang semakin baik dan meningkatnya daya tarik kota.
“Kalau kota ditata dengan baik, daya pikatnya tinggi. Ekonomi tumbuh, dan pada akhirnya pajak juga akan berjalan,” ujarnya.
Bapenda Kota Palu berharap, pertumbuhan coffee shop tidak hanya masif dari sisi jumlah, tetapi juga berkelanjutan dari sisi kualitas usaha. Menjaga cita rasa, pelayanan, dan loyalitas konsumen dinilai menjadi kunci agar usaha bertahan sekaligus terus berkontribusi terhadap daerah.
“Harapannya coffee shop ini tumbuh dengan baik, menjaga ciri khas dan cita rasa, agar konsumennya bertahan dan tetap berkontribusi terhadap pajak dan pendapatan daerah,” tutup Syarifudin.***
Editor : Talib