Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Pengrajin Tali Kur Nurani Bertahan Sejak Pandemi, Ikuti Kerajinan yang Sedang Populer  

Rina Khalik • Jumat, 12 Desember 2025 | 16:43 WIB

 

 

TERUS BERTAHAN : Pengrajin Tali Kur, Nurani saat tengah membuat kerajinan tali kur untuk tumbler pada Jumat (12/12/2025).
TERUS BERTAHAN : Pengrajin Tali Kur, Nurani saat tengah membuat kerajinan tali kur untuk tumbler pada Jumat (12/12/2025).

RADAR PALU - Di tengah geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Palu, sosok Nurani, seorang pengrajin tali kur, terus bertahan dengan usaha kerajinan rumahan yang dirintisnya sejak masa pandemi Covid-19.

Kepada Radar Palu Jawa Pos Group, Nurani menceritakan awal mula dirinya terjun sebagai pengrajin. Yang dimana kegiatan tersebut ia tekuni pada masa covid, dan memulai dengan usaha kerajinan tali kur berupa tali masker yang dijual dengan harga yang cukup terjangkau.

"Karena Covid kan, jadi bikin-bikin di rumah. Jadi di situ mulainya bikin ini kerajinan tali kur sampai sekarang," ujar Nurani kepada Radar Palu saat ditemui pada Jumat (12/12/2025).

Keahliannya mengolah tali kur ternyata sudah dipelajari sejak masa sekolah. Produk pertama yang dibuat pada masa pandemi adalah tali masker, barang yang saat itu banyak dicari masyarakat.

"Yang pertama saya bikin itu tali masker. Kan Covid itu yang paling banyak orang beli," jelasnya.

Harga jualnya sendiri bervariasi, mulai Rp5 ribu hingga Rp15 ribu per biji tergantung ukuran.

Saat ini, ia tak lagi rutin memproduksi tali masker dan beralih membuat kerajinan yang sedang tren, seperti gantungan kunci dan tempat tumbler dari anyaman tali kur. Omzet yang didapat cukup lumayan. "Waktu MTQ kemarin, lumayanlah," ungkapnya.

Dari semua bentuk kerajinan yang ia jual, Nurani mengungkapkan bahwa minat beli masyarakat lebih banyak kepada gantungan kunci. Selain murah juga dapat dijadikan sebagai hiasan tas yang dapat dibawa kemana saja.

Dalam sebulan, jumlah pesanan yang ia terima terkadang bervariasi. Bahkan pesanan sering datang dengan permintaan warna tertentu. "Paling banyak 15, tapi tergantung. Kadang pesanan ada 10, 15, ya tergantung orang pesan berapa," ujarnya.

 

Mengenai produksi, ia mengaku mampu membuat berbagai model, meski belum pernah mencoba pesanan besar seperti tas laptop. "Kalau ada yang pesan, saya bikinkan" katanya.

Namun, pemasaran masih menjadi kendala. Ia belum memanfaatkan platform online dalam menjualkan produknya. Untuk menjangkau pembeli, Nurani kerap berjualan langsung.

"Saya kadang jual di depan Alfamidi, kalau gantungan kunci. Saya bawa keranjang, tinggal saya taruh di depan Alfamidi itu, duduk saya di situ," ujarnya.

Terkait dukungan pemerintah, Nurani menilai UMKM di Palu sebenarnya mendapat perhatian baik, meski khusus kerajinan seperti miliknya belum  tersentuh oleh pemerintah daerah.

"Sangat membantu, cuma saya belum tersentuh. Mungkin belum terlalu orang lihat. Yang lebih dilihat itu makanan," ujarnya.

Ia berharap ke depannya Pemerintah Kota Palu lebih memberi perhatian kepada pengrajin kecil yang bekerja dari rumah. Selain gantungan kunci, ia juga membuat sarung tumbler seharga Rp35 ribu dan tas tali kur yang dibanderol Rp45 ribu.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#usaha kerajinan rumahan #kerajinan #pengrajin tali kur #tali masker