RADAR PALU - Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, inflasi di Kota Palu diperkirakan kembali mengalami kenaikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palu, Agus Santoso, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan pola tahunan yang selalu terjadi setiap Desember.
Agus mengatakan, meningkatnya aktivitas belanja masyarakat menjadi pendorong utama inflasi akhir tahun.
"Setiap Desember selalu terjadi inflasi. Penyebabnya karena belanja menyambut Natal dan masyarakat Palu yang merayakan malam tahun baru," ungkap Agus kepada Radar Palu Jawa Pos Group saat ditemui pada Kamis (11/12/2025).
Menurutnya, komoditas pangan kembali menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Tahun ini, sejumlah faktor tambahan ikut memperkuat tekanan harga, termasuk kenaikan harga emas.
"Fenomena 2025 ini ada penggerak lain. Harga emas naik hingga di atas Rp2 juta," jelas Agus.
Selain emas, kenaikan harga ayam, telur, dan cabai merah mulai terlihat sejak awal Desember. Lonjakan permintaan pada MBG turut menambah tekanan harga.
"Yang paling besar pengaruhnya saat ini ayam, telur, dan cabai karena permintaan cukup tinggi," tambahnya.
Terkait kemungkinan terjadinya deflasi pada Januari 2026, Agus menyebutkan bahwa tren tersebut masih belum dapat dipastikan.
Namun, berdasarkan pola historis, inflasi pada Januari biasanya relatif kecil. "Kalau pun terjadi inflasi, biasanya sangat kecil. Tapi kita belum bisa pastikan sekarang," katanya.
BPS sebagai lembaga penghitungan inflasi juga telah memberikan peringatan dini kepada pemerintah daerah terkait komoditas yang perlu diantisipasi kenaikan harganya.
Agus menegaskan, kewenangan pengendalian berada pada dinas terkait.
"Kami hanya memberi warning kepada masyarakat bahwa ini komoditi yang bergerak harganya. Untuk pengendalian ada di pertanian, perindustrian, dan perdagangan," ucapnya.
Agus menambahkan, pemerintah daerah masih memiliki ruang untuk menekan inflasi pada komoditas-komoditas tertentu. "Yang bisa dikendalikan daerah itu seperti cabai, telur, dan daging," katanya.(rna)
Editor : Mugni Supardi