Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kelor Jaka Mandiri Palu Terkendala Modal dan Alat, Produksi Masih Bergantung Pesanan

Rina Khalik • Minggu, 7 Desember 2025 | 09:59 WIB
HARAP ULURAN TANGAN INVESTOR : Pemilik Usaha Jaka mandiri, Fathal Mufidah saat menjajakan produknya di acara Tava Kelo Festival. Sabtu (6/12/2025).
HARAP ULURAN TANGAN INVESTOR : Pemilik Usaha Jaka mandiri, Fathal Mufidah saat menjajakan produknya di acara Tava Kelo Festival. Sabtu (6/12/2025).

RADAR PALU - Usaha olahan kelor Jaka Mandiri yang dikelola Fathal Mufidah masih menghadapi berbagai kendala dalam proses produksi. 

Meski setiap hari melakukan produksi, kapasitas yang dihasilkan masih bergantung pada pesanan karena keterbatasan modal untuk pembelian bahan baku serta alat produksi yang belum memadai.

"Kami setiap hari produksi, hanya saja produksi yang saya produksi ini sesuai dengan pesanan. Karena keterbatasan untuk modal usaha beli bahan baku," ujar Fathal Mufidah, pemilik usaha Jaka Mandiri saat ditemui pada Sabtu (6/12/2025).

Menurutnya, peralatan yang digunakan masih bersifat manual sehingga produksi sepenuhnya bergantung pada tenaga manusia. 

"Belum ada marketing tetapnya. Itu satu. Yang kedua, di alatnya, dari alat produksi itu masih sangat belum cukup, belum memadai, jadi masih skala manual," jelasnya.

Dia menjelaskan, seorang pekerja hanya mampu menghasilkan 1 kilogram kelor celup dalam sehari. Dalam hitungan produksinya, 1 dus berisi 20 celup, dan 1 celup seberat 2 gram, sehingga 1 kilogram hanya menghasilkan 20 dus. 

Produk olahan yang diproduksi meliputi kelor celup dan saraba kelor, semuanya dibuat berdasarkan permintaan konsumen.

Selain itu, meski telah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Palu berupa mesin pengering kelor pada tahun 2022, kapasitas pengering tersebut juga masih terbatas. 

"Kapasitas dari pengering itu sendiri hanya mampunya 2 kg kering. Artinya 2 kg kering berarti hanya bisa menghasilkan 40 dus dalam satu hari," ujarnya.

Tidak hanya bantuan berupa mesin, namun dalam setiap event yang diadakan Pemerintah Kota Palu selalu memberikan ruang dan kesempatan kepada Jaka Mandiri untuk mempromosikan produknya.

Sementara itu, untuk harga, kelor celup dijual dengan harga Rp30 ribu per dus, sementara saraba kelor dalam satu sachet dengan isi 100 gram juga dibanderol Rp30 ribu per sachet. Namun, pemasaran masih sebatas lokal karena belum adanya pasar tetap.

"Belum memproduksi skala banyak, karena belum ada pasar tetap, pasar tetap belum ada," tambahnya.

Dalam hal ketenagakerjaan, Fathal Mufidah melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga produksi, baik pekerja tetap maupun tenaga tidak tetap seperti pekerja pelorot daun kelor. 

"Tenaga lorot itu tenaga tidak tetap. Jadi untuk dikeringkan kelornya kita butuh tenaga lorot. Harganya itu Rp14 ribu per kilonya tenaga lorot," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa produksi masih fluktuatif, terkadang hanya berlangsung seminggu sekali, meski setiap bulan tetap ada kegiatan produksi.

Dia berharap ke depan usahanya dapat berkembang melalui dukungan investor maupun bapak angkat yang bisa membantu pendanaan, khususnya untuk peningkatan kapasitas alat produksi dan pemasaran. 

"Harapan saya ke depannya semoga mendapatkan minimal bapak angkat atau investor yang bisa mendanai produksi kelor celup maupun saraba kelor," harapnya.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#daun kelor #kelor celup #Usaha olahan kelor Jaka Mandiri