Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

APINDO Minta Kepastian Formula Upah: Industri Tertekan, Risiko Relokasi Meningkat di 2025

Talib • Kamis, 27 November 2025 | 19:51 WIB

 

Pengurus APINDO menjelaskan dinamika pengupahan dan tantangan industri 2025 dalam sesi Media Briefing di Jakarta.
Pengurus APINDO menjelaskan dinamika pengupahan dan tantangan industri 2025 dalam sesi Media Briefing di Jakarta.

RADAR PALU - Di tengah tekanan biaya produksi dan lemahnya permintaan domestik pada 2025, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) kembali menegaskan urgensi kepastian formula penetapan upah minimum.

Sikap ini mengemuka dalam kegiatan Economic & Labour Insight serta Media Briefing di kantor APINDO, Jakarta, Selasa 25 November 2025.

Sekretaris Umum APINDO, Aloysius Budi Santoso, menyebut kegiatan ini sebagai ruang untuk memperdalam pemahaman jurnalis mengenai dinamika ketenagakerjaan.

Menurutnya, isu pengupahan bukan hanya soal nominal upah, tetapi berkaitan langsung dengan keberlanjutan usaha dan kesejahteraan pekerja.

“Kebijakan yang akurat perlu ditopang data objektif, agar media dapat memberi informasi konstruktif kepada publik,” ujarnya.

Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, menekankan perlunya konsistensi pemerintah dalam menggunakan formula pengupahan sebagaimana diatur PP 36/2021 dan PP 51/2023, yang juga diperkuat Putusan MK.

APINDO meminta nilai alfa dalam formula tidak dipukul rata dan harus mencerminkan kondisi ekonomi serta produktivitas daerah.

Kekhawatiran dunia usaha semakin jelas disampaikan Wakil Ketua Umum APINDO, Sanny Iskandar. Ia menegaskan ketidakpastian upah yang berlarut bisa memengaruhi arah investasi.

Bahkan, beberapa perusahaan mulai mempertimbangkan relokasi ke negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja. “Kita punya peluang besar, tapi perlu kepastian agar industri tetap bertahan,” katanya.

Dari sisi struktur produksi, Bob Azam menilai dialog bipartit perlu diperkuat agar penyesuaian upah mencerminkan kondisi riil perusahaan.

Sementara Darwoto mengingatkan bahwa alfa tidak bisa diseragamkan karena pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi modal, teknologi, dan produktivitas total.

Tantangan eksternal turut menambah tekanan. Ketua Bidang Perdagangan APINDO, Anne Patricia Sutanto, menyebut daya beli masyarakat turun, sementara biaya logistik, energi, dan bunga tinggi membuat industri berada pada kondisi yang tidak ideal.

Penurunan penjualan kendaraan dan kontraksi industri padat karya menjadi alarm serius bagi pemulihan manufaktur.

Menutup acara, Shinta kembali mengapresiasi peran media sebagai mitra strategis dalam menjaga kualitas ruang dialog publik.

“Semangat Indonesia Incorporated harus terus dijaga agar kita bersama bisa memperkuat daya saing ekonomi nasional,” katanya. ***

Editor : Talib
#upah minimum #industri #APINDO #investasi #produktivitas