RADAR PALU - Program pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang dijalankan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu terus didorong sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menekan biaya belanja harian rumah tangga.
Kepala Bidang Konsumsi dan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu, Muhammad Chrystal Malik, menjelaskan bahwa pembentukan KWT memang diprioritaskan untuk kaum ibu yang dinilai paling dekat dengan kebutuhan dapur.
Menurutnya, pemanfaatan waktu luang ibu rumah tangga bisa diarahkan pada aktivitas yang cukup produktif, seperti menanam sayuran dan tanaman obat keluarga (toga) di pekarangan.
"Dalam hal ini pemerintah membentuk KWT agar ibu-ibu dapat mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat dan menunjang kebutuhan pangan keluarganya," ujar Chrystal kepada Radar Palu Jawa Pos pada Senin (10/11/2025).
Saat ini, Dinas Pertanian telah membentuk sekitar 40 KWT di Kota Palu. Namun kelompok yang aktif tersisa belasan. Kurangnya keaktifan anggota menjadi penyebab utama stagnasi program di beberapa lokasi.
"Sering kali anggota tidak aktif, sehingga kelompok sulit bergerak. Padahal satu KWT minimal beranggotakan 10 orang," katanya.
Setelah kelompok terbentuk dan terdaftar di Sistem Informasi Penyuluhan (SIMLU), barulah dinas memberikan intervensi berupa pelatihan serta bantuan alat pertanian seperti cangkul, polybag, hingga bibit sayuran, cabai, tomat, terong serta tanaman toga seperti jahe dan lengkuas. Bantuan diberikan dalam bentuk barang untuk menghindari penyalahgunaan.
Tahun ini, sebanyak tujuh kelompok baru telah mendapat dukungan peralatan dan bibit. Setiap KWT diwajibkan membuat demplot sebagai pusat penyemaian dan penanaman, sebelum kemudian didistribusikan ke pekarangan rumah anggota. Dengan begitu, kebutuhan sayuran dan bumbu dapur bisa dipenuhi tanpa harus ke pasar.
Chrystal mengakui, dampak program KWT berbeda-beda di tiap kelompok. Sebagian berhasil konsisten, sebagian terbentur keterbatasan sarana, terutama akses air.
"Ada kelompok yang punya komitmen kuat, tapi sumber airnya tidak memadai. Akhirnya mereka tidak bisa berproduksi maksimal," katanya.
Meski belum sepenuhnya meningkatkan pendapatan ekonomi, program ini efektif menekan pengeluaran rumah tangga. "Tujuannya memang pemenuhan pangan keluarga. Ibu-ibu cukup memetik sayuran di pekarangan, sehingga biaya belanja harian bisa ditekan," jelasnya.
Beberapa KWT bahkan telah berkembang menjadi usaha kecil dengan memanfaatkan teknologi hidroponik. Produk sayuran organik bebas pestisida itu sudah masuk ke pasar modern karena tingginya permintaan.
Pembinaan KWT juga mendukung program urban farming yang menjadi salah satu dari 35 program prioritas Pemerintah Kota Palu. Keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan membuat pemanfaatan pekarangan menjadi solusi tepat.
"Kota Palu ini bukan daerah produksi, tapi pasar. Lahan terbatas, sehingga pekarangan dan lahan kosong di sekitar pemukiman harus dimanfaatkan semaksimal mungkin," terangnya.
Ia menambahkan, selain manfaat ekonomi dan ketersediaan pangan, KWT juga memberi keuntungan sosial. Aktivitas bersama di kelompok mampu meningkatkan komunikasi antarwarga, memperkuat hubungan bertetangga, dan menciptakan ruang saling membantu ketika panen.
"Banyak benefit yang diperoleh, bukan hanya soal finansial. Ada interaksi sosial, kebersamaan, dan saling berbagi hasil panen. Ke depan, KWT sangat potensial menjadi penggerak ketahanan pangan keluarga," tandasnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi