RADAR PALU - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palu terus melakukan pemantauan rutin terhadap perkembangan sektor pertanian melalui kegiatan ubinan yang dilaksanakan sepanjang tahun.
Koordinator Pertanian BPS Kota Palu, Andi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian survei pertanian yang dilakukan dari Januari hingga Desember.
Menurut Andi, ubinan menjadi suatu metode penting dalam melihat produktivitas berbagai komoditas tanaman pangan, seperti padi, jagung, kacang tanah, ubi jalar, dan ubi kayu. Kegiatan ini dilaksanakan secara berkelanjutan melalui empat supervisi produksi atau supron.
"Ubinan ini dilakukan tiap tahun, Januari sampai Desember. Kita melihat perkembangan hasil tanaman dari bulan ke bulan, per triwulan, hingga tahunan. Tujuannya memberikan gambaran pertanian di wilayah masing-masing," ujar Andi kepada Radar Palu Jawa Pos Group saat ditemui pada Senin (10/11/2025).
Dalam kegiatan pengamatan Senin 10 November 2025, BPS Kota Palu memusatkan pemantauan di Kelurahan Duyu. Lokasi ditentukan berdasarkan area yang sedang memiliki tanaman pangan aktif. "Hari ini kita masih fokus di daerah Duyu," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa hasil panen jagung yang diuji ubinan menunjukkan capaian yang sangat baik. "Hasilnya maksimal sekali, mencapai 11 kilogram per petak ubin untuk jagung," jelasnya.
Andi menegaskan bahwa BPS tidak menetapkan target produksi tertentu. Tugas lembaga statistik ini hanya memantau, mencatat, dan menyediakan data akurat mengenai kondisi pertanian.
"Kalau target tidak ada. BPS hanya memantau hasil petani dan perkembangan tanamannya," tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa respon petani selama ini sangat positif. Para petani merasa terbantu karena data yang dikumpulkan BPS juga dapat menjadi dasar penyaluran bibit maupun subsidi pemerintah.
"Petani mendukung karena mereka juga perlu diketahui dari mana bibitnya, bagaimana perkembangannya. Banyak yang dapat bibit gratis atau subsidi dari pemerintah," ungkapnya.
Kegiatan ubinan dilakukan tidak hanya di wilayah-wilayah produktif, tetapi juga menjangkau area yang tergolong ekstrem untuk memastikan gambaran data pertanian lebih lengkap.
"Setiap bulan kami turun. Bukan hanya satu wilayah, tapi se-Kota Palu. Sampai Salena, dan wilayah-wilayah ekstrem," kata Andi.
BPS berharap kegiatan ini terus memberikan informasi akurat bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pertanian, sekaligus ikut mendorong upaya peningkatan kesejahteraan petani.(rna)
Editor : Mugni Supardi