RADAR PALU - Kain tenun khas Sulawesi Tengah khususnya Tenun Donggala kini semakin diminati masyarakat. Produksi kain tradisional ini terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, baik dari sisi jumlah maupun permintaan pasar.
Salah satu pelaku usaha kain tenun di Kota Palu, Feby mengatakan bahwa tren peningkatan produksi tenun Donggala sudah berlangsung beberapa tahun terakhir.
"Produksinya bagus, setiap tahun semakin naik. Permintaan juga terus meningkat," ujar Feby kepada Radar Palu saat ditemui pada Sabtu (18/10/2025) di kegiatan Misi Dagang dan Investasi.
Menurutnya, produk tenun asal Sulawesi Tengah tersebut tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga telah menembus pasar luar daerah.
"Sering juga keluar daerah. Kemarin sempat kirim sampai ke Batam dan Kalimantan Selatan," ungkapnya.
Di Kota Palu sendiri, permintaan kain tenun paling banyak datang dari kebutuhan seragam.
"Kalau dipresentasekan, sekitar 75 persen permintaan untuk seragam. Sekarang bukan hanya instansi negeri, tapi swasta pun sudah banyak yang menggunakan batik tenun Donggala," jelasnya.
Untuk harga, ia menyebutkan, produk tenun dijual mulai dari Rp200 ribu hingga Rp1 juta per potong, tergantung model dan tingkat kesulitan pengerjaan. Dukungan pemerintah, kata Feby, juga sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha tenun ini.
"Respon pemerintah sangat mendukung, baik dari segi bahan baku, SDM, maupun promosi. Semuanya membantu," katanya.
Ia berharap ke depan sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah terus ditingkatkan, terutama dalam hal penyediaan sumber daya manusia dan pemerataan bantuan alat produksi.
"Lebih mendukung lagi untuk penyediaan SDM dan alat yang lebih merata," harapnya.
Menariknya, sebagian besar tenaga kerja di industri tenun ini merupakan warga lokal Kota Palu.
"Semuanya orang Palu. Kalau menenun kebanyakan perempuan, sedangkan yang mencelup dan mewarnai itu laki-laki," tambahnya.
Ia juga menyebutkan, penjualan kain tenun cenderung stabil setiap bulan, bahkan menunjukkan peningkatan seiring dengan tingginya minat masyarakat terhadap produk lokal.
"Setiap bulan penjualannya stabil, malah meningkat," tandasnya. (***)
Editor : Mugni Supardi