"Fokus utama kami memang di keranjang buah. Tapi kalau diminta buat kursi, sketsel, atau produk lain dari rotan juga bisa," ungkap Ahmad kepada Radar Palu saat ditemui ditempat usahanya pada Rabu (8/10/2025).
Pemasaran hasil kerajinan rotan milik Ahmad kini tak hanya beredar di Kota Palu, tapi sudah menembus pasar luar daerah hingga Kalimantan. "Kalau di Sulawesi hampir semua kota sudah ada, dari Makassar, Toraja, Gorontalo, Sulbar. Di Kendari juga ada langganan tetap. Ke Kalimantan kami kirim sampai ke Samarinda," ujarnya.
Untuk harga, Ahmad menuturkan, produk keranjang buah dijual mulai dari Rp10 ribu tergantung ukuran dan model. "Kalau model biasa Rp10 ribuan, tapi yang lebih besar dan rumit bisa sampai Rp50 ribu bahkan Rp100 ribu," katanya.
Dalam sebulan, penjualan keranjang bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 buah, terutama saat hari-hari besar seperti Natal, Tahun Baru, dan Lebaran. "Kalau hari-hari biasa tetap stabil. Alhamdulillah waktu COVID pun usaha ini tetap jalan," tutur Ahmad.
Ia mempekerjakan lima orang warga sekitar yang dilatih secara langsung untuk menganyam keranjang. "Untuk keranjang ada lima orang karyawan, semuanya warga sekitar. Mereka saya ajarkan langsung. Kalau untuk kursi, kita ambil tukang dari Cirebon, ada tiga orang bagian rangka, anyaman, dan finishing," jelasnya.
Permintaan untuk kursi rotan pun cukup rutin datang dari luar kota denga total rata-rata empat sampai lima set dalam sebulan. Ahmad juga mengakui pernah mendapat perhatian dari pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian Kota Palu.
Namun, ia berharap ke depan pemerintah kota bisa lebih memperhatikan keberlanjutan usaha rotan, terutama soal bahan baku. "Sekarang bahan baku utama dari pabrik daerah sudah mulai naik harganya. Padahal dari petani masih stabil. Mungkin karena harga dari perusahaan yang naik," terangnya.
Meski begitu, Ahmad tetap optimistis dengan masa depan kerajinan rotan. Ia menegaskan, usaha ini akan terus dikembangkan karena telah menjadi sumber penghidupan bagi warga sekitar. "Ini rumah produksi memang untuk pengrajin. Harapannya pemerintah kota bisa lebih membantu supaya usaha seperti ini bisa terus tumbuh," harapnya. (rna)
Editor : Nur Soima Ulfa