Menurutnya bahwa kondisi harga beras saat ini cukup mengkhawatirkan. Bahkan di sejumlah ritel modern di Jakarta, stok beras premium ukuran 5 kilogram sudah sulit ditemukan.
"Minggu lalu saya berada di Jakarta, di Alfamidi, Superindo, tidak ada beras premium 5 kilo. Kejadian seperti ini jangan sampai terjadi di Palu," ujar Imelda dalam Rapat High Level Meeting TPID pada Selasa (16/9/2025).
Imelda mengungkapkan masih banyak masyarakat yang enggan memilih beras SPHP karena adanya anggapan kualitasnya kurang baik. Padahal, menurut hasil uji coba dan klarifikasi dengan pihak Bank Indonesia dan Bulog, beras SPHP memiliki kualitas baik dan layak konsumsi.
"Masyarakat ini maunya beras premium, tidak mau beras SPHP. Padahal beras SPHP itu bagus, tidak kuning seperti isu yang beredar," jelasnya.
Untuk mengubah mindset tersebut, Pemkot Palu bersama BI dan asosiasi pemerintah berencana menggelar sejumlah kegiatan kreatif. Salah satunya lomba memasak menggunakan beras SPHP yang akan dikemas dalam rangkaian peringatan HUT ke-47 Kota Palu.
"Kita ingin masyarakat tahu bahwa SPHP ini layak dikonsumsi dan enak. Insya Allah kita akan masifkan sosialisasinya," terang Imelda.
Selain fokus pada persoalan beras, Wawali juga menyinggung soal pengendalian harga komoditas pangan lain seperti bawang merah dan cabai. Menurutnya, Pasar Murah maupun Pasar Tani harus digencarkan agar harga tetap terjangkau oleh masyarakat di Kota Palu.
"Bukan hanya beras, bawang merah dan cabai juga harus dijaga. Pasar murah jangan hanya jelang ulang tahun kota, tapi bisa dimulai sekarang," tegasnya. (rna)
Editor : Nur Soima Ulfa