"Yang banyak penanaman itu di Tawaeli. Tawaeli itu di Pantoloan Boya dan Pantoloan Induk," ujar Fungsional penyuluh pertanian ahli muda di Dinas Pertanian Kota Palu, Sri Dewi Yuni AS kepada Radar Palu saat ditemui pada Kamis (28/9/2025).
Selain Tawaeli, sejumlah wilayah lain juga ikut berkontribusi dalam kegiatan tanam jagung. Seperti Kelurahan Kayumalue, Mamboro, Tipo, Buluri, Layana, Kawatuna dan Petobo.
Meski luas tanam tercatat mencapai 11 hektare di bulan Agustus, namun jumlah lahan yang telah dipanen masih terbilang kecil. "Panennya itu bulan ini masih 0,25 hektare. Itu pun di Tawaeli," katanya.
Untuk pengawasan, Dinas Pertanian Kota Palu melalui penyuluh yang ditempatkan di setiap kelurahan, melakukan pendampingan dan pencatatan rutin.
"Setiap wilayah kelurahan itu punya satu penyuluh dari Dinas Pertanian. Mereka jadi perpanjangan tangan Dinas Pertanian" ungkapnya.
Penyuluh bertugas mencatat data luas tanam, luas panen, pembinaan terhadap petani hingga kendala yang dihadapi petani. Bila ada kendala seperti kesulitan bibit, pupuk, atau serangan hama, petani diarahkan untuk melapor ke penyuluh.
"Nanti dikoneksikan ke petugas pengendali organisme pengganggu tanaman," jelasnya lagi.
Dinas juga menyebut bahwa petani yang belum tergabung dalam kelompok tani akan diarahkan untuk bergabung demi mempermudah pembinaan dan distribusi bantuan.
Sementara itu, terkait harga jagung pipilan, tercatat fluktuasi dari tingkat petani hingga ke pengecer. Untuk tingkat petani, harga jual ke distributor disebut berkisar di angka Rp6.100 per kilo
"Harga di pasar itu jagung pipilan Rp6.200 per kilo. Itu biasanya harga petani langsung. Pengecer Rp7.000, " ujarnya.
Data ini masih bersifat sementara dan terus dimutakhirkan oleh penyuluh yang tersebar di tiap kelurahan. (rna)
Editor : Nur Soima Ulfa