Dari Laboratorium ke Hidroponik, Jejak Karyawan IMIP di Ruang Hijau

Ismail Kamur • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 10:15 WIB
Meidi menjalani pekerjaan lain, usaha green house di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.
Meidi Yurianti Mangkasa, menjalani pekerjaan lain, yakni usaha green house di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. 

RADAR PALU - Tak hanya menjalani rutinitas kerja di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebagian karyawan juga memberi inspirasi dari berbagai aktivitas positif lainnya. Seperti yang dilakukan Meidi Yurianti Mangkasa.

Di sela rutinitas sebagai Analis Kimia dan Air pada Departemen Testing Center PT TTRI (salah satu tenant di Kawasan IMIP), Meidi menjalani pekerjaan lain, usaha green house di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. 

Di sana, ia tak lagi mengenakan seragam analis laboratorium. Meidi menjadi petani hidroponik, pengelola usaha, sekaligus konten kreator. "Kalau mau untung lebih, memang harus korban waktu," kata Meidi, saat dijumpai di green house miliknya, kemarin.

Baca Juga: Ratusan Tongkang Ore Nikel Diduga Tanpa PHQC di Siuna, Safri Pertanyakan Asal-usul dan Legalitasnya

Meidi mulai bekerja di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel sebagai analis laboratorium yang berhubungan erat dengan sampel dan angka. Salah satu sampel yang dianalisis adalah material ore. Dari proses analisis tersebut, kadar nikel dapat diketahui dan menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas serta nilai ekonominya. 

Soal merintis usaha hidroponik, Meidi mengaku bermula dari hal sederhana dengan mencoba menanam sendiri di balkon tempat kosnya di Desa Labota. Ia membeli polibag, mencari tanah yang dianggap subur, lalu mulai menanam berbagai tanaman.

Bagi Meidi, keberhasilan menuai yang ia tanam sendiri memberikan kepuasan berbeda. Tanaman itu kemudian dimasak sendiri, juga dibagikan kepada teman dan tetangga kos.

Baca Juga: Timnas Indonesia Buka FIFA ASEAN Cup 2026 dengan Kemenangan 2-0 atas Singapura

Suatu ketika, selada hasil panennya ia unggah melalui media sosial dan temannya tertarik membeli. Saat itu Meidi menjualnya sekitar Rp5.000 per tanaman. Dari transaksi sederhana tersebut, sebuah kesadaran muncul.

Ternyata bisa jadi rupiah. Ia mulai mencari tahu siapa yang membutuhkan selada di Bahodopi. Restoran, usaha burger dan kebab, frozen food, hingga berbagai usaha kuliner menjadi calon konsumennya. 

Maret 2023, Meidi mulai membangun green house yang lebih serius. Panen pertama dari pengembangan tersebut dilakukan pada Mei 2023. Usaha itu kemudian diberi nama Mey Farm Hidroponik. Pada tahap pembibitan, tanaman mendapat konsentrasi nutrisi sekitar 500–600 ppm.

Baca Juga: Rustia Tompo Soroti Solar Panel Tak Berfungsi di Palu Utara, Kadis Perkim Beri Penjelasan

Setelah sekitar 10 hari, dipindahkan ke tahap remaja dengan konsentrasi sekitar 800–900 ppm selama 17–20 hari. Berikutnya adalah meja dewasa, dengan konsentrasi sekitar 1.000–1.200 ppm hingga tanaman siap dipanen pada usia sekitar 40 hari. 

Meidi memilih menciptakan ruang hijau kecil melalui tanaman hidroponik. Ia tidak mengklaim green house miliknya dapat menyelesaikan persoalan lingkungan di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel tersebut. Namun, ia melihat aktivitas sederhana itu sebagai bentuk kontribusi yang bisa ia lakukan.

"Saya berharap hidroponik ini bisa menyumbangkan sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi," ujarnya.

Meidi sedang memperluas green house untuk meningkatkan kapasitas produksi selada. Ia berharap dapat merekrut masyarakat sekitar Bahodopi dan membuka lapangan pekerjaan baru. Ia menyadari, status karyawan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang berlangsung selamanya.

Baca Juga: Banggar Soroti Alur Alam dan Pemerataan Bedah Rumah di Palu, Kadis Perkim Buka Data 1.115 Rumah

Karena itu, Meidi ingin memiliki sumber penghasilan lain yang dibangun sejak sekarang. Hidroponik menjadi ruang relaksasi mengelola tekanan dan rutinitas pekerjaan di laboratorium. 

Ada cerita yang membuat Meidi berbeda dari kisah karyawan yang memiliki usaha sampingan. Ia justru menggunakan apa yang dimiliki untuk membangun pilihan lain.

Ilmu kimia menjadi modal, pekerjaan di laboratorium melatih ketelitian, kemudian hobi sebagai pintu masuk dengan memanfaatkan media sosial alat pemasaran. "Saya harus ngonten biar orang tahu saya jual selada," ujar Meidi. 

Baca Juga: Ekonomi Hijau Sulteng Dorong Nilai Ekonomi Karbon, Hutan Masyarakat Berpeluang Dapat Kompensasi

Eka Oktavia, salah satu konsumen dan pemilik Frozen Food Bahomakmur mengaku, sering memesan selada di Mey Farm Hidroponik. Penilaiannya, rasa seladanya tidak pahit, ukurannya besar dengan harga terjangkau, Rp10.000/pohon. "Kemasannya proper, bisa tahan hingga 10 hari dalam lemari pendingin," kata Eka Oktavia.***

Editor : Mugni Supardi
Karyawan IMIP hidroponik Morowali Mey Farm Hidroponik green house Bahodopi usaha hidroponik